PALEMBANG — Tekanan inflasi di Sumatera Selatan mulai mereda pada Juli 2026, ditandai dengan deflasi bulanan yang lebih dalam dibandingkan rata-rata nasional. Berdasarkan rilis resmi BPS Sumsel, Senin (3/8/2026), penurunan harga terjadi pada sejumlah kebutuhan pokok, terutama di sektor energi dan holtikultura, namun masih tertahan oleh kenaikan harga beras dan pengeluaran tahun ajaran baru.
Kepala BPS Sumsel, Moh. Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa pergerakan harga BBM di SPBU tidak seragam. Beberapa jenis bahan bakar justru mengalami penurunan signifikan, sementara lainnya naik, sehingga efeknya terhadap inflasi menjadi tarik-menarik.
Data BPS menunjukkan penurunan harga cukup tajam terjadi pada Dexlite dari Rp23.500 menjadi Rp20.160 per liter dan Pertamina Dex dari Rp25.350 menjadi Rp21.650 per liter. Pertamax Turbo juga turun dari Rp21.500 menjadi Rp19.750 per liter.
Di sisi lain, harga Pertamax justru mengalami kenaikan dari Rp15.300 menjadi Rp16.650 per liter. "Ada beberapa komoditas BBM yang naik dan ada yang turun. Dari sisi komposisi dan tingkat penggunaannya, terjadi tarik-menarik sehingga memengaruhi kondisi inflasi di Sumsel," kata Wahyu dalam konferensi pers.
Penurunan harga juga terjadi pada komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan tomat. Kondisi ini dipicu melimpahnya pasokan hasil panen dari daerah produsen serta kiriman dari provinsi lain.
Sementara itu, harga emas perhiasan menunjukkan tren lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. "Harga emas bergerak fluktuatif dengan kisaran tertinggi sekitar Rp2.670.000 dan terendah Rp2.601.000," jelas Wahyu.
Meski mengalami deflasi, beberapa sektor masih mencatat kenaikan harga. Beras menjadi penyumbang inflasi terbesar karena harganya naik baik di tingkat distributor maupun petani. Tekanan tambahan datang dari momen tahun ajaran baru yang mendorong kenaikan pengeluaran untuk buku tulis, seragam sekolah, hingga biaya pendidikan jenjang TK dan SD.
Secara tahunan (year on year/yoy), Sumatera Selatan masih mencatat inflasi sebesar 2,50 persen. Namun tren ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Komoditas seperti emas perhiasan, bensin, dan minyak goreng menjadi faktor yang memengaruhi perkembangan inflasi tahunan tersebut," ulasnya.
BPS mencatat kondisi inflasi di empat daerah cakupan penghitungan IHK relatif beragam. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengalami inflasi tertinggi, sementara Kota Lubuklinggau justru mencatat deflasi.
Menanggapi kondisi ini, Wahyu menambahkan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menjaga stabilitas harga melalui berbagai langkah pengendalian inflasi. Operasi pasar murah menjadi andalan untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia. "Konsisten oleh Pemerintah Daerah pengendalian inflasi, upaya pasar murah sehingga Sumsel mengalami deflasi," pungkasnya.