PALEMBANG — Sebanyak 50 ahli waris penerima manfaat BPJS Ketenagakerjaan di Sumatera Selatan mengikuti pelatihan kewirausahaan melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA). Kegiatan ini berlangsung di Balai Latihan Kerja (BLK) Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (31/1/2026), dan dibuka langsung oleh Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, bersama Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Sumsel, Slamet Riyadi.
Program ini dirancang untuk mengubah pola pemanfaatan santunan yang kerap bersifat konsumtif menjadi modal produktif. Para peserta tidak hanya menerima dana, tetapi juga pendampingan agar mampu membangun usaha mandiri yang berkelanjutan.
Selama pelatihan, para ahli waris mendapatkan pembekalan yang mencakup empat aspek utama:
Materi tersebut diharapkan mampu menjadi fondasi bagi peserta untuk merintis usaha dari nol. Pendekatan ini sekaligus menjawab tantangan utama ahli waris yang kehilangan pencari nafkah utama.
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, menegaskan bahwa PEKA merupakan wujud nyata dari konsep Value Beyond Protection. Pihaknya tidak berhenti pada pembayaran klaim, tetapi hadir sebelum, saat, dan setelah risiko kerja terjadi.
"Program PEKA lahir dari semangat Value Beyond Protection, di mana kami menghadirkan nilai tambah sebelum risiko terjadi, saat risiko terjadi, maupun setelah manfaat diterima," ujar Saiful dalam sambutannya.
Menurutnya, santunan yang diterima peserta maupun ahli waris diharapkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga menjadi modal produktif melalui pendampingan dan pelatihan usaha.
Program PEKA dijalankan dengan prinsip 3P, yakni Pelatihan, Produktivitas, dan Profit. Ketiga pilar ini menjadi kerangka kerja untuk memastikan manfaat jaminan sosial memberikan dampak berkelanjutan terhadap kesejahteraan keluarga peserta.
Saiful mengakui, secara regulasi tugas BPJS Ketenagakerjaan selesai setelah manfaat dibayarkan. Namun, pihaknya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu peserta dan keluarganya tetap sejahtera.
Kolaborasi dengan Pemprov Sumsel melalui BLK menjadi langkah strategis untuk memastikan pelatihan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan potensi ekonomi lokal. Dengan keterampilan ini, para ahli waris diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi wirausaha baru yang mandiri.