5 Destinasi Wisata Sejarah di Sumatera Selatan yang Penuh Cerita, dari Masjid Raya hingga Pulau Legenda

Penulis: Amril Fauzan  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:31:01 WIB

Palembang bukan cuma kota pempek. Di sini, lapisan sejarah dari abad ke-7 hingga kolonial masih menempel di bangunan dan ruang publik. Buat kamu yang suka meraba masa lalu langsung di tempat, lima destinasi ini layak masuk daftar kunjungan.

1. Masjid Agung Palembang – Saksi Bisu Kesultanan Darussalam

Masjid ini berdiri sejak 1748, didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Arsitekturnya memadukan gaya Melayu, Tiongkok, dan Eropa — atap tumpang khas Jawa, ornamen porselen dari Dinasti Qing, serta pilar-pilar kokoh yang mirip bangunan kolonial.

Letaknya di pusat kota, dekat Jembatan Ampera. Waktu terbaik berkunjung pagi hari sebelum salat Jumat karena suasananya sepi. Kamu bisa mengamati detail kaligrafi di dinding dan mimbar kuno dari kayu jati.

2. Benteng Kuto Besak – Markas Pertahanan di Tepi Musi

Benteng peninggalan Kesultanan Palembang ini selesai dibangun pada 1797 atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin II. Dindingnya setebal 1,6 meter dari batu bata dan kapur, tanpa semen modern — masih kokoh meski sering terendam banjir pasang Sungai Musi.

Kini area benteng jadi ruang publik. Kamu bisa berjalan di tembok atas sambil melihat lalu lintas perahu di sungai. Akses masuk gratis, tapi jam operasional sebaiknya dicek langsung karena benteng ini juga digunakan untuk acara pemerintah.

3. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II – Artefak dari Zaman Sriwijaya

Museum ini menempati bangunan kolonial Belanda di Jalan K.H. Ahmad Dahlan. Koleksinya mencakup prasasti, senjata tradisional, hingga replika rumah limas Palembang. Salah satu benda yang paling dicari pengunjung adalah naskah kuno beraksara Ulu.

Jangan lewatkan lantai dua yang menyimpan diorama sejarah Sriwijaya. Tiket masuk murah, sekitar Rp5.000 (data 2020 — sebaiknya tanya petugas untuk angka pasti). Museum buka Selasa sampai Minggu, libur Senin dan hari besar nasional.

4. Pulau Kemaro – Legenda Cinta dan Pagoda Hok Tjing Rio

Pulau kecil di tengah Sungai Musi ini identik dengan cerita cinta putri Palembang dan pangeran Tiongkok. Di sini berdiri pagoda sembilan lantai bernama Hok Tjing Rio, dikelilingi lampion merah dan kelenteng. Setiap tahun saat Cap Go Meh, pulau ini dipadati peziarah.

Untuk ke sana, kamu bisa naik perahu motor dari dermaga 16 Ilir atau Benteng Kuto Besak. Lama perjalanan sekitar 20 menit. Sebaiknya pergi pagi hari karena arus sungai lebih tenang. Tidak ada tiket masuk, hanya biaya sewa perahu yang perlu dinegosiasi dengan tukang boat.

5. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya – Reruntuhan di Karang Anyar

Lokasinya di Desa Karang Anyar, Kecamatan Gandus, sekitar 15 km dari pusat Palembang. Di sini kamu bisa melihat sisa struktur bata kuno yang diduga kuat bagian dari kompleks pemukiman Sriwijaya abad ke-7. Sebagian fondasi masih tertanam di rawa-rawa.

Di area ini juga ada kolam kuno yang disebut "Telaga Biru" — warnanya hijau kebiruan karena kandungan mineral. Riset masih terus dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan. Akses jalan sudah diaspal tapi masih sempit. Bawa air minum sendiri karena tidak ada warung di dalam kawasan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua tempat ini bisa dikunjungi dalam sehari?
Bisa, asal mobilisasi pakai kendaraan pribadi. Mulailah dari Masjid Agung, lanjut ke Benteng dan Museum (satu area), lalu siang ke Pulau Kemaro, dan sore ke Taman Purbakala. Tapi untuk Taman Purbakala perlu waktu tempuh tambahan 30 menit sekali jalan.

Apakah ada biaya masuk untuk setiap destinasi?
Masjid Agung dan Benteng Kuto Besak gratis. Museum dan Taman Purbakala memungut biaya masuk yang sangat terjangkau. Pulau Kemaro hanya bayar sewa perahu. Pastikan bawa uang tunai kecil.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke Palembang untuk wisata sejarah?
Mei hingga September (musim kemarau) karena air Sungai Musi surut dan jalanan tidak becek. Cap Go Meh (Februari/Maret) juga menarik kalau mau lihat tradisi di Pulau Kemaro.

Apakah ada pemandu wisata di situs-situs ini?
Di Museum dan Taman Purbakala tersedia pemandu resmi, biasanya diminta langsung ke petugas jaga. Di Masjid Agung dan Benteng tidak ada pemandu khusus, tapi banyak penjelasan berupa panel informasi.

Apa yang harus dibawa saat berwisata sejarah di Sumatera Selatan?
Topi, sunblock, air minum, dan kamera. Cuaca Palembang panas dan lembap sepanjang tahun. Jangan lupa bawa uang tunai karena banyak tempat tidak menerima QRIS.

Kelima tempat ini bukan sekadar objek foto, melainkan saksi bisu peradaban yang pernah bersinar di timur Sumatera. Datanglah dengan waktu cukup, bukan sekadar mampir setengah jam. Sejarah tak akan bicara kalau kita terburu-buru.

Reporter: Amril Fauzan
Back to top