PALEMBANG — Pola penularan HIV/AIDS di Sumatera Selatan mengalami pergeseran signifikan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, mengungkapkan bahwa perilaku seksual berisiko kini menjadi pendorong utama, bukan lagi penggunaan jarum suntik.
"Peningkatan kasus HIV/AIDS saat ini tidak lagi didominasi oleh penggunaan jarum suntik, melainkan lebih banyak berkaitan dengan perilaku seksual berisiko," ujar Ira, Jumat (17/7/2026).
Dari 380 kasus baru yang tercatat, Dinkes Sumsel merinci penularan berdasarkan kelompok risiko sebagai berikut:
Data ini menunjukkan bahwa penularan melalui hubungan heteroseksual mendominasi, disusul oleh kelompok LSL dan homoseksual dengan angka yang hampir setara.
Kota Palembang mencatatkan diri sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai 203 kasus. Rinciannya, 133 kasus HIV dan 70 kasus AIDS. Sementara itu, Kota Lubuklinggau melaporkan 27 kasus, terdiri dari 12 kasus HIV dan 15 kasus AIDS. Dua penderita di Lubuklinggau dilaporkan meninggal dunia.
Secara keseluruhan, sebanyak 28 penderita dari total 380 kasus baru dilaporkan meninggal dunia selama periode Januari hingga Mei 2026.
Menghadapi situasi ini, Ira mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dengan menerapkan perilaku seksual yang aman. Selain itu, pemanfaatan layanan tes HIV sejak dini dinilai krusial untuk menekan angka penularan.
"Melalui deteksi dini, penderita dapat segera memperoleh pengobatan sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan," katanya.
Dinkes Sumsel terus mendorong perluasan akses layanan tes HIV di puskesmas dan rumah sakit, khususnya di wilayah dengan temuan kasus tinggi seperti Palembang dan Lubuklinggau.