Sejarah dan Budaya Sumatera Selatan yang Kaya dan Memukau: 7 Warisan Leluhur yang Masih Hidup Hingga Kini

Penulis: Hamdani Putra  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 13:46:31 WIB
Pemandangan perahu kayu melintas di Sungai Musi, Palembang, merefleksikan aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada aliran sungai tersebut.

Di tepian Sungai Musi, denyut peradaban Sumatera Selatan masih terasa hingga pagi ini. Bukan sekadar cerita dari buku sejarah, jejak Kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai Selat Malaka pada abad ke-7 bisa dilihat langsung dari ritual masyarakat dan bangunan yang tersisa. Saya beberapa kali menyusuri kawasan 1 Ulu hingga 16 Ulu di Palembang, dan di sanalah saya melihat sendiri bagaimana budaya sungai bertahan—perahu-perahu kayu masih hilir mudik mengangkut barang, sementara rumah panggung tradisional berjejer di sepanjang bantaran.

Warisan budaya Sumatera Selatan bukan barang mati di museum. Tradisi seperti upacara adat, kain songket, dan kuliner pempek adalah praktik hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Berikut tujuh aspek yang membuat provinsi ini layak Anda jelajahi lebih dalam.

1. Sungai Musi: Jantung Peradaban yang Tak Pernah Berhenti Berdenyut

Sungai Musi membelah Kota Palembang sepanjang lebih dari 750 kilometer. Sejak era Sriwijaya, sungai ini menjadi jalur perdagangan utama yang menghubungkan Nusantara dengan India dan Tiongkok. Hingga sekarang, aktivitas di sungai ini tidak pernah sepi—mulai dari kapal barang, perahu wisata, hingga warga yang mandi dan mencuci di tepiannya.

Jika Anda ingin merasakan atmosfer asli, naiklah perahu motor tradisional dari Dermaga 16 Ulu saat matahari terbit. Kabut tipis di atas permukaan air, suara mesin perahu yang berderu pelan, dan aroma makanan yang baru dimasak dari rumah-rumah di pinggir sungai adalah pengalaman yang tidak akan Anda dapatkan di tempat lain.

2. Benteng Kuto Besak: Simbol Kejayaan Kesultanan Palembang

Tepat di tepi Sungai Musi, Benteng Kuto Besak berdiri megah dengan dinding bata merah setebal hampir 2 meter. Dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, benteng ini bukan sekadar tempat pertahanan. Di dalamnya terdapat kompleks istana dan ruang sidang adat yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam.

Yang menarik, hingga kini benteng ini masih digunakan sebagai Markas Komando Daerah Militer Sriwijaya. Anda bisa berjalan di sekitar area luar benteng tanpa biaya, dan dari sini pemandangan Jembatan Ampera yang ikonik terlihat sempurna, terutama saat lampu kota mulai menyala.

3. Songket Palembang: Benang Emas yang Menceritakan Status Sosial

Kain songket bukan sekadar tekstil. Di Palembang, songket adalah penanda identitas. Motif lepus, nampan perahu, atau bungo cino memiliki makna filosofis yang dalam. Proses pembuatannya bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung kerumitan motif dan jumlah benang emas yang digunakan.

Saya pernah menyaksikan langsung penenun di kawasan 30 Ilir bekerja di alat tenun tradisional. Tangannya bergerak cepat, menyilangkan benang pakan dan lungsin, sementara benang emas diselipkan satu per satu. Songket asli Palembang terasa lebih berat dan kaku karena kandungan logam pada benang emasnya—ciri yang sulit ditiru oleh mesin.

4. Pempek: Lebih dari Sekadar Makanan, Ini Identitas Kuliner

Pempek bukan sekadar camilan. Di Palembang, pempek adalah urusan serius. Ada puluhan variasi: pempek kapal selam, lenjer, adaan, keriting, dan kulit. Bahan dasarnya sama—daging ikan tenggiri segar yang dicampur sagu—tetapi teknik pembentukan dan penyajiannya berbeda.

Warga lokal biasanya akan mengantar Anda ke tempat pempek favorit mereka. Saya belajar bahwa pempek yang enak tidak terlalu kenyal, tetapi terasa lembut di gigitan pertama, dengan rasa ikan yang dominan, bukan tepung. Cuka cuko yang menemani pempek harus pas—asam, pedas, dan manis dalam satu tegukan. Jangan lupa tambahkan mi kuning dan potongan timun sebagai pelengkap.

5. Tari Gending Sriwijaya: Gerakan Tangan yang Bercerita tentang Keagungan

Tari Gending Sriwijaya adalah tarian penyambutan tamu agung yang lahir dari masa Kesultanan Palembang. Gerakannya lembut tetapi penuh wibawa, dengan penari membawa selendang panjang di kedua tangan. Setiap gerakan jari dan lengkungan tubuh memiliki arti—dari penghormatan hingga undangan.

Pertunjukan tari ini biasanya diiringi musik gambus, rebana, dan gendang. Yang paling memukau adalah kostum penari: songket merah keemasan dengan hiasan kepala berbentuk mahkota khas Palembang. Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan pertunjukan ini di acara pernikahan adat atau festival budaya yang rutin digelar di Palembang.

6. Rumah Limas: Arsitektur Panggung yang Adaptif dengan Iklim Tropis

Rumah Limas adalah rumah adat Sumatera Selatan yang dibangun dengan struktur panggung dari kayu. Atapnya berbentuk limas—tumpukan segitiga yang semakin ke atas semakin lancip. Fungsinya bukan sekadar estetika: atap ini memungkinkan sirkulasi udara yang baik dan melindungi rumah dari panas tropis.

Di dalam rumah, terdapat lantai bertingkat yang disebut kekijing. Semakin tinggi tingkat lantai, semakin terhormat tamu yang duduk di sana. Rumah Limas asli bisa ditemukan di kawasan Seberang Ulu dan beberapa desa di Kabupaten Banyuasin. Sayangnya, banyak yang sudah dimodernisasi, tetapi beberapa keluarga masih mempertahankan bentuk aslinya.

7. Upacara Sedekah Bumi: Ritual Syukur Masyarakat Agraris

Di berbagai kabupaten seperti Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, tradisi sedekah bumi masih rutin digelar setiap tahun. Warga membawa hasil bumi ke tempat keramat atau makam leluhur, lalu didoakan bersama. Ritual ini bukan sekadar seremoni—ini adalah pengingat bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam.

Dalam acara sedekah bumi, biasanya ada pertunjukan kesenian rakyat seperti pencak silat dan tari-tarian. Makanan yang dibawa kemudian dibagikan kepada semua yang hadir. Saya pernah ikut serta di desa kecil di Kabupaten Banyuasin, dan suasana kekeluargaan yang terasa sangat kuat—semua orang duduk lesehan, makan bersama, dan tertawa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu terbaik mengunjungi Sumatera Selatan untuk melihat budaya?
Musim kemarau antara Juni hingga September adalah waktu ideal. Banyak festival budaya digelar di periode ini, seperti Festival Sriwijaya dan Festival Musi yang menampilkan parade perahu hias dan pertunjukan seni.

Apa oleh-oleh khas Sumatera Selatan selain pempek?
Songket Palembang adalah oleh-oleh paling berharga. Alternatif lain adalah kue khas seperti kue maksuba, kue delapan jam, dan amplang (kerupuk ikan).

Apakah Benteng Kuto Besak bisa dimasuki wisatawan?
Area luar dan taman di sekitarnya terbuka untuk umum. Untuk masuk ke dalam bangunan utama, Anda perlu izin khusus karena masih digunakan sebagai markas militer.

Bagaimana cara membedakan songket asli dan palsu?
Songket asli terasa berat, benang emasnya tidak mudah luntur, dan motifnya timbul karena ditenun manual. Songket mesin biasanya lebih tipis dan motifnya rata.

Apakah Sungai Musi aman untuk wisata perahu?
Relatif aman, terutama di siang hari. Pilih perahu wisata resmi yang berizin dan gunakan pelampung. Hindari naik perahu saat cuaca buruk atau malam hari tanpa penerangan yang memadai.

Sumatera Selatan tidak perlu dipoles agar terlihat menarik. Sungai yang berarus lambat, songket yang berkilau di bawah sinar matahari, dan aroma cuko yang menyengat sudah cukup menjadi alasan untuk datang. Yang perlu Anda lakukan hanyalah meluangkan waktu—duduk di tepian Musi, mengobrol dengan penduduk lokal, dan membiarkan budaya ini berbicara sendiri.

Reporter: Hamdani Putra
Back to top