Indikator BMKG Tunjukkan Potensi Karhutla Sumsel Meningkat dalam Sepekan, Balai Dalkarhut Perketat Patroli di OKI dan Indralaya

Penulis: Hamdani Putra  •  Minggu, 12 Juli 2026 | 13:31:31 WIB
Personel Balai Dalkarhut meningkatkan patroli darat dan udara di OKI dan Indralaya untuk antisipasi karhutla.

PALEMBANG — Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan memasuki fase waspada. Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera langsung merespons dengan mengerahkan personel tambahan dan memperketat patroli, khususnya di kawasan Indralaya dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

FFMC Jadi Alarm: Bahan Bakar di Permukaan Tanah Sangat Kering

Indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dari BMKG menjadi dasar utama keputusan ini. FFMC mengukur tingkat kekeringan material ringan di lapisan atas tanah seperti serasah daun kering, humus, dan alang-alang. Ketika angkanya tinggi, material tersebut sangat mudah menyala hanya karena percikan api kecil.

"FFMC dari BMKG memberikan prediksi seminggu ke depan, tingkat kemungkinan kejadian kebakaran akan meningkat di seluruh Sumatera, termasuk di Sumsel," ujar Kepala Balai Dalkarhut Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, di Palembang, Sabtu.

Personel Ditambah, Frekuensi Patroli Dinaikkan di Titik Rawan

Balai Dalkarhut tidak hanya mengandalkan patroli darat. Mereka juga mengaktifkan patroli udara untuk memantau titik panas secara langsung. Data visual dari udara itu langsung dibagikan secara real-time kepada perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) di OKI.

"Kami akan menempatkan tambahan personel di sekitar Indralaya, kemudian frekuensi patroli kami tambah pada titik-titik rawan. Apabila ditemukan visual udara dari patroli udara kami, informasi langsung kami bagikan kepada perusahaan-perusahaan kebun atau HTI di OKI," jelas Ferdian.

Perusahaan-perusahaan tersebut, menurut Ferdian, sudah memiliki regu pengendali kebakaran yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dari Balai Dalkarhut. Jejaring ini diharapkan mampu mempercepat respons pemadaman sejak api masih berupa titik kecil.

Penyebab Utama Bukan Cuaca, Melainkan Manusia

Meski kondisi cuaca menjadi pemicu, Balai Dalkarhut menegaskan bahwa faktor utama karhutla tetap berasal dari aktivitas manusia. Pembakaran lahan untuk pertanian, membuang puntung rokok di lahan gambut kering, atau pembakaran sampah sembarangan menjadi ancaman serius, apalagi jika disertai angin kencang.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran terbuka di sekitar kawasan hutan dan lahan gambut selama periode ini. Imbauan ini menjadi krusial mengingat sebagian besar wilayah Sumsel, terutama OKI, merupakan area gambut yang sangat rentan terbakar dan sulit dipadamkan jika api sudah membesar.

Reporter: Hamdani Putra
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top