Wakil Direktur Pascasarjana UIN Raden Fatah, Dr. Muhammad Torik, Lc., M.A., menegaskan bahwa pemilihan lokasi bukan tanpa alasan. Madrasah Idrisiah dinilai sebagai laboratorium hidup pengelolaan pendidikan Islam yang mampu beradaptasi dari masa kolonial hingga era digital.
"Kami sengaja memilih Madrasah Idrisiah karena ia merupakan salah satu pesantren tertua di Perak. Kami ingin melihat langsung bagaimana sejarah pendidikan madrasah di Malaysia berkembang dan bagaimana lembaga berusia lebih dari satu abad ini mengelola pendidikan, kepemimpinan, serta manajemen pesantrennya sehingga tetap eksis hingga hari ini," ujar Muhammad Torik dalam keterangan yang diterima di Palembang.
Rombongan dipimpin langsung oleh Muhammad Torik bersama Prof. Dr. Ovi Fitriyanti, Prof. Dr. Ermis Suryana, Dr. Yulia Tri Samiha, Dr. Yuyun Yunuarti, Dr. Muhammad Abdillah, serta mahasiswa Magister PAI dan MPI. Mereka tidak sekadar berkunjung, melainkan melakukan observasi dan dialog mendalam tentang sistem kepemimpinan pesantren, pengelolaan kurikulum, pembinaan santri, hingga penjaminan mutu pendidikan.
Topik lain yang dibahas mencakup pengembangan sumber daya manusia dan strategi penguatan kelembagaan di era digital. Para peserta juga bertukar pengalaman mengenai tantangan digitalisasi pembelajaran dan peningkatan kompetensi guru di kedua negara.
Delegasi UIN Raden Fatah disambut langsung oleh Mudir Madrasah Idrisiah, Ustadz Khairul Anwar el-Syadzali bin Musa, beserta jajaran pimpinan pesantren. Dalam sambutannya, Khairul Anwar menekankan bahwa lembaga yang telah melahirkan banyak ulama dan tokoh masyarakat ini terus melakukan pembaruan dalam sistem pengelolaannya.
"Madrasah Idrisiah bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga saksi perjalanan sejarah pendidikan Islam di Malaysia. Selama lebih satu abad, kami berusaha menjaga tradisi keilmuan sambil memperkuat sistem pengurusan, kepemimpinan, dan pengembangan akademik agar pesantren mampu menghadapi cabaran semasa," katanya.
Agenda utama dilanjutkan dengan diskusi akademik yang membahas model kepemimpinan, sistem administrasi dan keuangan, serta strategi menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren dan tuntutan modernisasi. Diskusi berlangsung interaktif dan melibatkan mahasiswa secara aktif.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat hubungan kelembagaan melalui kolaborasi riset, publikasi ilmiah, pertukaran akademisi, serta pengembangan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada penguatan tata kelola pendidikan Islam. Lawatan ini menegaskan bahwa mempelajari sejarah pesantren dan sistem manajemennya adalah langkah penting dalam membangun model pendidikan Islam yang berakar pada tradisi namun adaptif terhadap zaman.