PALEMBANG — Kendati melambat secara bulanan, inflasi tahunan (year on year/yoy) Sumsel justru naik menjadi 2,89 persen pada Juni 2026, dari 2,61 persen pada bulan sebelumnya. Angka ini sejalan dengan tren nasional yang tercatat di angka 3,34 persen (yoy).
Kenaikan harga pada Juni 2026 utamanya didorong oleh lima komoditas utama. Bensin menjadi penyumbang tertinggi dengan andil 0,19 persen, menyusul bawang putih dan tomat yang masing-masing menyumbang 0,07 persen, serta bawang merah (0,05 persen) dan beras (0,04 persen).
Kenaikan harga bensin dipicu oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku per 10 Juni 2026. Sementara itu, pasokan bawang putih, tomat, dan bawang merah berkurang akibat fenomena El Nino yang menekan produksi hortikultura di sejumlah sentra.
“Tekanan inflasi juga didorong oleh peningkatan mobilitas dan konsumsi rumah tangga selama periode libur sekolah,” kata Bambang Pramono dalam rilis resminya, kemarin.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi. Harga emas turun seiring membaiknya sentimen global, sementara daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami normalisasi permintaan.
Penurunan harga dua komoditas protein hewani itu dipengaruhi oleh penghentian sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah.
Untuk menjaga stabilitas harga, TPID Sumsel mengerahkan strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 358 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah digelar di berbagai wilayah.
“Kami juga melakukan puluhan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar untuk memastikan ketersediaan stok dan kepatuhan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET),” ujar Bambang.
Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi pada Juli 2026 akan meningkat. Faktor pendorongnya antara lain periode libur sekolah dan pendaftaran tahun ajaran baru yang berpotensi mengerek permintaan di sektor pendidikan dan transportasi.
Selain itu, efek lanjutan dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi serta dampak musim kemarau yang diprakirakan lebih kering dengan curah hujan rendah juga patut diwaspadai. Kondisi ini berpotensi mengganggu kestabilan produksi komoditas hortikultura di Sumsel.