MUARA ENIM — Di tengah tekanan pandemi Covid-19 yang memicu pengangguran di kalangan pemuda Lembak, Muara Enim, muncul inisiatif warga mengubah danau kumuh menjadi objek wisata. Proyek swadaya yang digagas tokoh masyarakat Bob Permana itu berhasil mengubah wajah Danau Shuji dari tempat pembuangan sampah menjadi desa wisata yang ramai dikunjungi.
Bob mengawali langkahnya dengan merekrut pemuda setempat untuk membersihkan danau menggunakan biaya pribadi. Setelah enam bulan, tumpukan sampah dan batang pohon yang berserakan hilang, air keruh berubah jernih. Tak berhenti di situ, ia mulai menyiapkan infrastruktur wisata sederhana seperti saung dan perahu.
Kegigihan Bob mengundang perhatian Pertamina EP Prabumulih Field, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Perusahaan itu masuk pada tahap awal pembinaan dengan membantu pengolahan sampah, lalu melanjutkan pendampingan melalui program MBAK DEWI SHUJI (Lembak Desa Wisata Shuji).
Program Pengembangan Masyarakat (PPM) berlangsung dari 2021 hingga 2025. Selama lima tahun, PEP Prabumulih Field memberikan pelatihan keterampilan, peningkatan kapasitas pengelolaan desa wisata, serta bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 8,72 kWp dengan baterai 10 kWh. Panel surya itu tidak hanya menyediakan energi alternatif, tetapi juga menjadi sarana edukasi transisi energi bagi pengunjung.
Kini Danau Shuji menjadi destinasi favorit warga Muara Enim dan sekitarnya. Pengunjung datang dari Palembang, Lampung, Lubuk Linggau, Bengkulu, dan Bangka. Mereka bisa menikmati naik perahu, sepeda air, piknik di saung, atau sekadar bersantai di pinggir danau.
Dampak ekonomi pun terasa. Sekitar 30 warga Lembak bekerja sebagai tenaga pengawas dan pelayan saat akhir pekan atau musim liburan. Sistem kerja fleksibel memungkinkan mereka tetap mengurus kebun di hari biasa. Program pembinaan dari PEP Prabumulih Field kini sudah dinyatakan selesai atau exit program, meninggalkan desa wisata yang mandiri.
Keberhasilan Danau Shuji tidak hanya soal estetika. Inisiatif ini menjawab dua persoalan sekaligus: lingkungan dan lapangan kerja. Berawal dari keprihatinan terhadap tempat sampah yang mencemari danau, pemuda Lembak justru menciptakan sirkuit ekonomi baru yang bertahan hingga pascapandemi. Model pengelolaan berbasis komunitas dan dukungan korporasi menjadi contoh transformasi daerah yang lahir dari krisis.