SUMATERA SELATAN — Keluhan sejumlah nelayan di Waikelo, Sumba Barat Daya, yang mengaku kesulitan mendapat BBM bersubsiasi untuk melaut, akhirnya terjawab. Setelah dilakukan pengecekan langsung, Pertamina memastikan pasokan BBM di SPBU wilayah itu masih tersedia, baik untuk jenis subsidi maupun non-subsidi.
Keruh itu muncul setelah adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi pada pertengahan Juni. Akibatnya, harga BBM di tingkat pengecer melonjak hingga sekitar Rp30 ribu per botol, membebani para nelayan kecil.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengungkapkan temuan di lapangan. Dari hasil pemantauan, nelayan yang mengeluh tersebut ternyata belum memiliki surat rekomendasi pembelian BBM subsidi.
"Terkait permasalahan nelayan di Waikelo, terpantau nelayan dimaksud belum memiliki surat rekomendasi sehingga melakukan pembelian di pengecer," kata Ahad dalam keterangannya, Minggu (28/6).
Padahal, sesuai aturan pemerintah, pembelian BBM khusus nelayan hanya bisa dilakukan lewat mekanisme surat rekomendasi yang dikeluarkan dinas terkait. SPBU tetap melayani pembelian BBM subsidi bagi seluruh nelayan yang telah memiliki dokumen tersebut.
Pertamina mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya untuk mengatasi masalah ini. Tujuannya, agar para nelayan bisa segera dilayani melalui penerbitan surat rekomendasi.
"Telah dilakukan pengecekan di SPBU wilayah Sumba Barat Daya, pasokan BBM masih tersedia baik BBM subsidi maupun non-subsidi," tegas Ahad Rahedi.
Dengan adanya koordinasi ini, diharapkan nelayan yang selama ini membeli BBM di pengecer dengan harga mahal bisa segera beralih ke SPBU resmi. Mereka cukup mengurus surat rekomendasi ke dinas setempat untuk mendapatkan harga subsidi yang jauh lebih murah.
Kasus di Sumba Barat Daya ini menjadi pengingat pentingnya sosialisasi prosedur pembelian BBM subsidi agar tepat sasaran dan tidak memberatkan masyarakat kecil yang sangat bergantung pada BBM untuk mencari nafkah.