SUMATERA SELATAN — Data pasar mencatat, rupiah menguat signifikan dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.922 per dolar AS. Penguatan ini menjadi yang tertinggi dalam sepekan terakhir, membalikkan tren pelemahan yang terjadi pada pekan lalu. Pada Jumat (26/6), rupiah masih tertekan di level Rp17.967 per dolar AS akibat kekhawatiran suku bunga tinggi The Fed.
Katalis utama penguatan rupiah datang dari kebijakan energi nasional. Pemerintah memutuskan untuk menyetop impor solar yang mencapai 300.000 barel per hari. Langkah ini diproyeksikan mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa, dua variabel yang selama ini membebani nilai tukar.
Di sisi lain, sentimen global masih mixed. Kekhawatiran terhadap sikap hawkish bank sentral AS masih membayangi pasar negara berkembang. Namun, pelaku pasar domestik tampak lebih responsif terhadap kabar positif dari dalam negeri, terutama yang berdampak langsung pada penghematan devisa.
Berikut adalah pergerakan rupiah sejak pekan lalu hingga hari ini:
Pola pergerakan ini menunjukkan rupiah masih sangat sensitif terhadap sentimen eksternal, terutama kebijakan moneter AS. Namun, penguatan hari ini mengindikasikan bahwa faktor domestik mulai diperhitungkan kembali oleh investor.
Bagi importir, penguatan rupiah memberikan sedikit ruang napas setelah tekanan berhari-hari. Biaya impor bahan baku dan barang modal menjadi lebih murah dalam hitungan rupiah. Namun, bagi eksportir, pelemahan dolar justru mengurangi daya saing harga produk di pasar global.
Investor di pasar obligasi dan saham pun patut mencermati. Stabilitas kurs biasanya menjadi sinyal positif bagi aliran modal asing masuk. Jika penguatan ini berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG ikut terdorong pada sesi perdagangan berikutnya.
Meski demikian, volatilitas masih tinggi. Pelaku pasar disarankan mencermati rilis data ekonomi AS pekan ini dan pernyataan pejabat The Fed yang bisa mengubah arah pergerakan dolar secara tiba-tiba.