PALEMBANG — Para pekebun sawit di Sumatera Selatan harus merelakan harga jual tandan buah segar (TBS) mereka turun sedikit lagi. Berdasarkan penetapan Dinas Perkebunan Sumsel, harga TBS tertinggi untuk usia tanam 22 tahun kini berada di angka Rp3.868,17 per kilogram (kg), turun dari periode sebelumnya yang mencapai Rp3.905,44 per kg.
Penurunan tipis ini terjadi di saat yang cukup paradoks. Biasanya, penguatan dolar Amerika Serikat menjadi angin segar bagi harga komoditas ekspor seperti sawit. Namun kali ini, logika itu seolah tak berlaku.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, M Ichwansyah, menjelaskan bahwa dolar memang memengaruhi harga, tapi bukan satu-satunya variabel penentu. Faktor yang lebih dominan saat ini adalah harga acuan CPO di Bursa Malaysia dan Rotterdam yang sedang turun.
“Secara sederhana memang dolar memengaruhi harga TBS, tapi bukan satu-satunya faktor. Saat ini harga acuan CPO dunia di Bursa Malaysia dan Rotterdam sedang turun,” ujar Ichwansyah, Rabu (20/5/2026).
Permintaan dari negara-negara tujuan utama ekspor, seperti Tiongkok dan Eropa, juga sedang melambat. Beberapa negara bahkan mulai beralih ke minyak nabati alternatif yang lebih murah, seperti minyak kedelai, yang semakin menekan harga CPO di pasar global.
Selain faktor eksternal, kondisi di dalam negeri ikut memperkeruh suasana. Penumpukan stok CPO di tangki-tangki timbun pelabuhan ekspor disebut menjadi salah satu penyebab harga belum mampu beranjak naik. Pasokan yang menggunung sementara permintaan mandek membuat tekanan harga semakin kuat.
Namun, ada satu variabel yang justru menunjukkan kondisi petani masih cukup baik. Indeks K, yang mengukur proporsi harga yang diterima petani, justru naik menjadi 93,29 persen dari sebelumnya sekitar 92 persen.
“Yang paling penting untuk sawit sebenarnya indeks K. Sekarang sudah 93 persen, artinya porsi harga yang diterima petani meningkat walaupun harga TBS turun tipis,” jelas Ichwansyah.
Penurunan harga dirasakan di hampir semua kelompok usia tanam. Harga TBS untuk usia produktif 10 hingga 20 tahun ditetapkan Rp3.864,31 per kg, lebih rendah dari Rp3.898,14 per kg pada periode I Mei 2026. Sementara itu, harga TBS usia 21 tahun berada di level Rp3.855,35 per kg dan usia 23 tahun sebesar Rp3.841,52 per kg.
Dalam periode yang sama, harga rata-rata CPO tercatat sebesar Rp15.058,72 per kg, sedangkan harga inti sawit atau kernel berada di angka Rp14.619,74 per kg. Angka-angka ini menjadi patokan bagi pekebun untuk menghitung pendapatan mereka di tengah fluktuasi pasar global yang masih belum menentu.