SUMATERA SELATAN — Memasuki pertengahan Mei 2026, pengguna BBM nonsubsidi di Indonesia harus merogoh kocek lebih dalam. Tiga operator SPBU besar—Pertamina, BP-AKR, dan Vivo—secara serempak mengerek harga jual produk mereka, dengan kenaikan paling ekstrem terjadi pada bahan bakar diesel.
Di Jakarta, Pertamina menaikkan harga Dexlite (CN 51) dari Rp23.600 per liter menjadi Rp26.000 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) melesat dari Rp23.900 per liter ke Rp27.900 per liter. Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Turbo (RON 98) yang kini dibanderol Rp19.900 per liter, naik Rp500 dari harga sebelumnya Rp19.400 per liter.
Kenaikan harga solar di SPBU swasta jauh lebih dramatis. BP-AKR menaikkan harga BP Ultimate Diesel (CN 53) menjadi Rp30.890 per liter, melonjak signifikan dari posisi Rp25.560 per liter pada pertengahan April 2026. Artinya, dalam sebulan terakhir, harga solar nonsubsidi di SPBU BP naik lebih dari Rp5.000 per liter.
Fenomena serupa terjadi di SPBU Vivo. Produk Diesel Primus (CN 51) melonjak drastis dari Rp14.610 per liter menjadi Rp30.890 per liter. Kenaikan hampir Rp16.000 per liter ini menjadi yang tertinggi di antara semua produk BBM nonsubsidi yang disesuaikan.
Menurut informasi resmi BP Indonesia, penyesuaian harga tersebut hanya berlaku untuk produk diesel. Sementara itu, harga BBM bensin di SPBU BP dan Vivo masih stabil. BP Ultimate dijual Rp12.930 per liter dan BP 92 seharga Rp12.390 per liter. Di Vivo, Revvo 92 (RON 92) masih Rp12.390 per liter dan Revvo 95 (RON 95) di posisi Rp12.930 per liter.
Kabar baik bagi pengguna bensin: Pertamina tidak mengubah harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95). Kedua produk tersebut masih dipertahankan pada harga sebelumnya. Begitu pula dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar Subsidi, yang hingga saat ini belum mengalami penyesuaian harga.
Lonjakan harga solar nonsubsidi ini diprediksi akan mendorong sebagian pengguna kendaraan diesel komersial—seperti truk logistik dan armada transportasi umum—untuk beralih ke solar bersubsidi. Namun, ketersediaan kuota solar bersubsidi yang terbatas bisa menjadi kendala tersendiri di lapangan.