SUMATERA SELATAN — Rupiah dibuka menguat pada pagi hari perdagangan, namun segera berbalik arah dan melemah 0,08% hingga mencapai 17.541 per dolar AS. Menurut data Bloomberg, rupiah sempat berada di level 17.515 per dolar AS sebelum mengalami penurunan lebih lanjut hingga pukul 09.52 WIB.
Selain rupiah, beberapa mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan. Rupee India tercatat melemah 0,34%, won Korea Selatan 0,29%, dan yen Jepang 0,04%. Hanya baht Thailand yang menunjukkan penguatan sebesar 0,17%, sedangkan ringgit Malaysia dan yuan Cina masing-masing menguat 0,12% dan 0,06%.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah meningkat akibat situasi yang semakin memanas di Timur Tengah, yang berpengaruh pada harga minyak global, serta ketidakpastian di pasar internasional. Di sisi domestik, terdapat lonjakan kebutuhan dolar AS, terutama untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen, serta kebutuhan untuk ibadah haji.
Destry menambahkan bahwa Bank Indonesia berkomitmen untuk melakukan intervensi cerdas di pasar, baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. "Kami mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas," ujarnya dalam keterangan resmi.
Meskipun ada tekanan yang berkelanjutan, Destry juga mencatat bahwa kepercayaan asing terhadap aset portofolio Indonesia menunjukkan perbaikan. Aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara dan SRBI selama bulan lalu mencatatkan angka signifikan mencapai Rp 61,6 triliun. Selain itu, likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga valas yang mencapai 10,9% secara tahunan di akhir Maret.
Bank Indonesia memperkirakan bahwa tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda, dan nilai tukar rupiah diharapkan dapat kembali ke level fundamentalnya dalam waktu dekat.