Tim Pusdokkes Polri mengandalkan pemeriksaan DNA dari sampel tulang untuk mengidentifikasi 18 jenazah korban kecelakaan bus ALS di Musi Rawas Utara. Keputusan teknis ini diambil lantaran kondisi fisik dan data odontologi korban mengalami kerusakan parah akibat suhu panas ekstrem. Proses tersebut menjadi jalur terakhir setelah identifikasi primer melalui sidik jari dan gigi tidak mungkin lagi dilakukan.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri kini memusatkan seluruh sumber daya pada pengujian deoxyribonucleic acid (DNA) untuk mengenali identitas korban kecelakaan maut di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Upaya ini dilakukan terhadap 18 jenazah yang kondisinya sangat memprihatinkan setelah bus ALS yang mereka tumpangi bertabrakan dengan truk tangki BBM hingga memicu kobaran api besar.
Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayati menyatakan bahwa tim medis harus bekerja ekstra hati-hati dalam memilih bagian tubuh yang akan dijadikan sampel. Mengingat jaringan lunak para korban sudah tidak utuh lagi, tulang menjadi satu-satunya sumber materi genetik yang tersisa untuk dicocokkan dengan data antemortem dari keluarga.
Proses identifikasi konvensional melalui ciri fisik maupun properti pribadi praktis tidak bisa diandalkan dalam kasus ini. Saat tabrakan hebat terjadi, sebagian besar barang milik penumpang terlepas dari tubuh dan ikut hangus terbakar. Kondisi ini diperparah dengan suhu tinggi dari ledakan truk tangki yang membuat struktur tubuh korban mengalami perubahan drastis.
Pemeriksaan gigi atau odontologi, yang biasanya menjadi pilar utama identifikasi primer setelah sidik jari, juga menemui jalan buntu. Tim DVI menemukan bahwa suhu panas yang luar biasa tinggi telah membuat kondisi gigi para korban menjadi sangat rapuh dan hancur. Padahal, dalam banyak kasus kebakaran sebelumnya, data gigi sering kali menjadi kunci tercepat untuk menentukan identitas seseorang.
"Karena apinya sangat besar sehingga sebagian besar tulang, termasuk gigi, itu juga menjadi rapuh," jelas Kombes Pol Wahyu Hidayati di Palembang, Sabtu (9/5/2026). Kerusakan termal yang masif ini memaksa tim ahli beralih sepenuhnya ke metode biologi molekuler yang lebih kompleks dan memakan waktu lebih lama dibandingkan prosedur standar.
Dalam tahap krusial ini, tim DVI melakukan seleksi ketat terhadap bagian tulang yang akan diambil sampelnya. Tidak semua bagian tulang bisa digunakan; tim mencari bagian tulang yang masih menunjukkan warna kemerahan. Warna ini mengindikasikan bahwa di dalam pori-pori tulang tersebut kemungkinan besar masih tersimpan sumsum atau residu jaringan yang mengandung DNA.
Kombes Pol Wahyu Hidayati menegaskan bahwa tulang yang sudah berubah menjadi arang atau terkarbonisasi sepenuhnya tidak dapat digunakan untuk ekstraksi DNA. "Dalam kondisi sekarang ini, kita mengambil tulang. Kita juga memilih tulang yang masih merah, yang kira-kira masih ada DNA-nya. Kalau tulangnya sudah jadi arang, tidak bisa," tambahnya.
Proses ini menuntut ketelitian tinggi karena kegagalan dalam pengambilan sampel awal akan menghambat seluruh rangkaian identifikasi. Setelah sampel didapatkan, tim akan mencocokkannya dengan profil DNA dari keluarga inti korban, seperti orang tua kandung atau anak, guna mendapatkan hasil yang akurat secara ilmiah (scientific identification).
Data terbaru menunjukkan jumlah korban meninggal dunia dalam insiden ini mencapai 18 orang. Penambahan angka ini terjadi setelah tim menemukan dua jenazah berada dalam satu kantong jenazah yang sama saat proses evakuasi awal. Selain itu, dilaporkan terdapat satu korban asal Tegal yang meninggal dunia di rumah sakit akibat luka bakar mencapai 90 persen.
Untuk mempercepat pengumpulan data pembanding, Tim DVI Polda Sumsel melakukan langkah "jemput bola" dengan mendatangi keluarga korban di berbagai daerah asal. Langkah ini krusial untuk mengumpulkan data antemortem seperti sampel DNA keluarga, catatan medis, hingga foto terakhir korban guna mempermudah proses rekonsiliasi data.
Sementara itu, operasi pencarian di sekitar lokasi kejadian juga terus dilakukan. Tim SAR baru saja menemukan korban kedua yang sempat hanyut di Sungai Musi dalam kondisi meninggal dunia setelah empat hari pencarian. Fokus otoritas saat ini adalah memastikan seluruh jenazah dapat teridentifikasi dengan tepat sebelum diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak.