Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan inflasi tahunan sebesar 1,63 persen pada April 2026, angka yang berada di bawah rata-rata nasional. Capaian ini didorong oleh deflasi bulanan sebesar 0,04 persen seiring normalisasi harga komoditas pangan dan transportasi pasca Idulfitri.
PALEMBANG — Kondisi ekonomi Sumatera Selatan menunjukkan tren positif pada April 2026. Data terbaru menunjukkan laju inflasi tahunan (yoy) melandai ke angka 1,63 persen, turun tajam jika dibandingkan periode sebelumnya yang sempat menyentuh 3,09 persen. Angka ini bahkan jauh lebih rendah dari inflasi nasional yang berada di level 2,42 persen.
Secara bulanan, provinsi ini mengalami deflasi sebesar 0,04 persen (mtm). Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan capaian bulan sebelumnya yang masih mencatatkan inflasi sebesar 0,29 persen. Penurunan indeks harga ini memberikan ruang bagi peningkatan daya beli masyarakat di berbagai kabupaten dan kota.
Penurunan harga sejumlah komoditas utama menjadi faktor kunci terjadinya deflasi. Emas perhiasan mencatatkan penurunan sebesar 0,14 persen, yang dipicu oleh aksi ambil untung investor di pasar global. Selain logam mulia, kelompok pangan juga memberikan kontribusi besar terhadap penurunan harga di pasar-pasar lokal.
Daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,14 persen dan 0,06 persen. Komoditas hortikultura seperti cabai rawit juga ikut turun sebesar 0,04 persen. Tren ini menunjukkan bahwa pasokan pangan di Sumatera Selatan kembali stabil setelah tekanan permintaan tinggi selama bulan Ramadan.
Sektor transportasi tidak ketinggalan menyumbang angka deflasi. Tarif angkutan antarkota tercatat turun 0,04 persen. Penurunan ini merupakan dampak langsung dari normalisasi permintaan jasa transportasi setelah puncak arus mudik dan balik Lebaran selesai.
Meskipun kondisi April terkendali, tantangan baru diprediksi muncul pada Mei 2026. Tekanan inflasi diperkirakan meningkat secara terbatas akibat dinamika harga minyak global. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi mengerek harga avtur, yang pada akhirnya membebani tarif angkutan udara.
Selain faktor energi, sektor pertanian juga menghadapi risiko musiman. Masuknya awal musim kemarau perlu diantisipasi secara serius oleh para pemangku kepentingan. Cuaca kering berpotensi mengganggu stabilitas produksi komoditas sensitif seperti bawang merah dan cabai, yang kerap menjadi pemicu inflasi di Sumatera Selatan.
Menanggapi berbagai risiko tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat sinergi lintas instansi. Langkah pengendalian dilakukan melalui strategi 4K yang terukur untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga hingga akhir tahun.
Koordinasi yang intensif antara pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan mampu meredam gejolak harga secara dini. Langkah antisipasi yang terkoordinasi menjadi kunci agar target inflasi tahunan tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.