Komnas PA Kecam Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah, Soroti Dampak ke Anak

Penulis: Syahril Hamid  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 09:36:32 WIB
Ketua Umum Komnas PA Agustinus Sirait mengecam perseteruan publik Ruben Onsu dan Sarwendah dalam konferensi pers di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

SUMATERA SELATAN — Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengecam keras perseteruan publik Ruben Onsu dan Sarwendah yang dinilai memberi contoh buruk bagi anak-anak. Ketua Umum Komnas PA Agustinus Sirait mengingatkan bahwa konflik orang dewasa di ruang publik berisiko mengganggu kesehatan mental dan tumbuh kembang buah hati mereka.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti perseteruan yang terus berlangsung antara Ruben Onsu dan Sarwendah di media sosial. Lembaga itu menilai aksi saling serang keduanya sebagai tontonan yang tidak pantas dan berpotensi menimbulkan ancaman nyata bagi kondisi psikis anak-anak.

Sikap Tegas Komnas PA

Ketua Umum Komnas PA Agustinus Sirait menyampaikan kecaman keras kepada kedua belah pihak. Menurutnya, perseteruan yang dibiarkan berlarut-larut di ruang publik tidak layak ditiru oleh masyarakat.

"Kami mengecam keras kedua belah pihak, apakah Ibu SW atau Bapak RO, yang sudah terus-menerus saling menyerang di ruang publik dan tidak patut dicontoh," ujar Agustinus Sirait dalam konferensi pers di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Pernyataan itu disampaikan langsung dalam konferensi pers, bukan sekadar imbauan tertulis. Komnas PA ingin memastikan persoalan ini tidak berhenti sebagai perbincangan warganet semata.

Kekhawatiran pada Kesehatan Mental Anak

Komnas PA menaruh perhatian besar pada kesehatan mental serta tumbuh kembang anak-anak Ruben Onsu dan Sarwendah. Konflik yang terbuka di depan publik membuat anak berisiko menanggung beban emosional yang tidak seharusnya mereka hadapi.

Anak-anak yang menyaksikan orang tuanya saling menyerang di media sosial bisa mengalami kebingungan, rasa malu, hingga tekanan psikologis. Dampak ini tidak selalu terlihat langsung, tetapi bisa terbawa sampai usia dewasa.

Negara Punya Payung Hukum

Agustinus menegaskan, negara memiliki payung hukum yang kuat untuk turun tangan. Intervensi bisa dilakukan jika perselisihan orang dewasa terbukti mengorbankan kepentingan sang anak.

Artinya, kasus seperti ini bukan sekadar urusan privat keluarga. Undang-Undang Perlindungan Anak memberi ruang bagi lembaga negara untuk memastikan hak anak tetap terjaga, termasuk hak atas rasa aman dan lingkungan tumbuh yang sehat.

Pelajaran untuk Orang Tua di Rumah

Konflik pasangan adalah hal wajar. Yang membedakan adalah cara menyelesaikannya, terutama di depan anak dan di ruang publik digital.

Beberapa langkah sederhana bisa ibu dan ayah terapkan saat terjadi perselisihan:

  • Hindari bertengkar di depan anak, termasuk lewat komentar di media sosial.
  • Jangan melibatkan anak dalam konflik atau meminta mereka memilih pihak.
  • Jaga komunikasi tetap sopan meski hubungan sedang tidak baik.
  • Beri anak penjelasan singkat sesuai usianya jika mereka bertanya.
  • Cari bantuan konselor keluarga bila konflik tak kunjung reda.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional

Jika anak mulai menunjukkan perubahan perilaku seperti menarik diri, sulit tidur, atau prestasi sekolah menurun, segera konsultasikan ke psikolog anak. Tangis yang mudah pecah atau kemarahan yang tidak biasa juga layak diwaspadai.

Semakin cepat orang tua mencari bantuan, semakin besar peluang anak pulih dari tekanan emosional akibat konflik keluarga.

Kecaman Komnas PA menjadi pengingat bahwa anak selalu menjadi pihak paling rentan saat orang tua berselisih. Menjaga anak dari pusaran konflik bukan tanda kalah, melainkan bentuk tanggung jawab yang sesungguhnya.

Reporter: Syahril Hamid
Sumber: lifestyle.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top