PALEMBANG — Kabut asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Palembang, Kamis (22/10/2026). Kondisi udara yang memburuk dalam dua pekan terakhir memaksa warga memperketat pemakaian masker, bahkan di dalam rumah.
Siti Aminah (38), warga kawasan Plaju, mengaku bau asap pembakaran lahan sudah menerobos masuk ke ruangan tempat tinggalnya. Ia menyebut udara di luar rumah tak lagi layak dihirup.
"Dalam dua pekan terakhir ini udara rasanya tidak layak dihirup. Keluar rumah sedikit saja dada terasa sesak dan mata perih. Kami terpaksa memperketat pemakaian masker di dalam rumah sekalipun, karena bau asap pembakaran lahan sudah masuk ke dalam ruangan," ujar Siti.
Data kualitas udara menegaskan penderitaan warga. Pada Rabu (21/10/2026) pukul 06.00 WIB, ISPU Kota Palembang melonjak hingga 557 dan secara resmi menempatkannya dalam kategori berbahaya.
Lonjakan itu dipicu meledaknya jumlah titik panas di Sumatera Selatan yang mencapai 1.277 titik pada Rabu pagi. Angka ini menandai kembali naiknya eskalasi kebakaran lahan setelah sempat melandai beberapa hari sebelumnya.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman merinci sebaran hotspot tersebut. Menurutnya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak.
"Terpantau sebanyak 1.277 titik panas hingga Rabu pukul 06.00 WIB. Kabupaten OKI menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, mencapai 695 titik," terang Sudirman.
Selain OKI dengan 695 titik, Banyuasin menyusul dengan 326 titik dan Musi Banyuasin 128 titik. Tiga wilayah ini menyumbang 1.149 titik panas atau hampir 90 persen dari total hotspot di Sumsel.
Sebaran lainnya terpantau meluas di Musi Rawas (28 titik), Muara Enim (24 titik), OKU Timur (23 titik), Musi Rawas Utara (16 titik), Ogan Ilir (12 titik), Lahat (11 titik), dan PALI (8 titik). Sisanya tersebar di OKU Selatan (3 titik), OKU (2 titik), serta Kota Prabumulih (1 titik).
Fluktuasi jumlah hotspot terlihat jelas sepanjang pekan lalu. Pada 14 Oktober 2026 tercatat 2.456 titik panas, sempat naik ke 2.791 titik pada 15 Oktober, lalu melandai menjadi 2.559 titik (16 Oktober) dan 1.122 titik (17 Oktober).
Angka itu kembali naik sedikit ke 1.560 titik pada 18 Oktober, lalu turun signifikan ke 753 titik pada 19 Oktober. Tren penurunan tak bertahan lama: titik panas merangkak naik menjadi 947 titik pada 20 Oktober dan melambung ke 1.277 titik sehari kemudian.
Secara kumulatif sejak Januari hingga 20 Oktober 2026, BPBD Sumsel mencatat 111.451 titik panas di seluruh wilayahnya.
Dampak asap tidak berhenti pada gangguan kesehatan. Rian (29), pengemudi ojek online di Palembang, mengeluhkan kabut tebal pada pagi hari yang membatasi jarak pandang dan mengganggu penghasilannya.
"Pagi-pagi kabutnya tebal sekali, pandangan terbatas dan bikin batuk-batuk di jalan. Mau tidak mau harus tetap jalan cari nafkah, tapi risikonya kesehatan taruhannya. Harapannya pemerintah bisa gerak cepat memadamkan api di titik-titik utama supaya udara Palembang bisa normal kembali," ungkap Rian.
Atas situasi darurat ini, warga mendesak Satgas Karhutla dan pemerintah daerah memperkuat langkah pemadaman. Operasi darat, pemadaman udara (water bombing), dan rekayasa cuaca dinilai perlu segera diperbanyak agar kabut asap tidak terus menyiksa Palembang dan sekitarnya.