PALEMBANG — Pantauan aplikasi IQAir pada pukul 04.00 WIB menunjukkan polusi udara di sejumlah lokasi Palembang berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Kawasan Unsri menjadi titik tertinggi dengan angka 1.137, disusul Demang Lebar Daun di angka 900.
Dua kawasan itu masuk kategori berbahaya berdasarkan klasifikasi yang ditampilkan dalam pantauan tersebut. Sementara Musi 2 tercatat 333, Sukarami 288, dan GP Palembang 290.
Sukarami dan GP Palembang berada pada kategori sangat tidak sehat. Warga mengeluhkan mata perih hingga sesak napas akibat paparan asap yang terus mengepul sejak pagi.
Perbedaan angka antarwilayah cukup lebar. Jarak antara titik tertinggi di Unsri dan terendah di Sukarami mencapai 849 poin pada waktu pengamatan yang sama.
Angka-angka itu dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga warga diminta terus memantau perkembangan kualitas udara. Pemantauan berkala menjadi penting karena konsentrasi partikel halus bergerak mengikuti arah angin dan titik panas karhutla di sekitar kota.
Aktivitas masyarakat tetap berlangsung di tengah kabut asap yang menyelimuti Palembang. Sebagian warga harus keluar rumah untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pantauan di lapangan masih menemukan warga berolahraga di luar ruangan tanpa masker pelindung yang memadai. Padahal, paparan polusi akibat asap karhutla berisiko mengganggu kesehatan.
Kelompok rentan menjadi yang paling terpapar: anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan. Partikel halus dari asap dapat masuk jauh ke saluran napas dan memperburuk kondisi mereka yang punya riwayat asma atau gangguan paru.
Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan disarankan memakai masker yang mampu menyaring partikel halus. Aktivitas fisik berat di luar rumah sebaiknya dikurangi selama kualitas udara belum membaik.
Jika mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan yang memburuk, warga diminta segera mencari pertolongan medis. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, nyeri dada, dan mata perih yang tak kunjung reda.
Kondisi udara Palembang menjadi pengingat agar warga lebih berhati-hati ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Pemantauan kualitas udara secara berkala tetap diperlukan sampai kabut asap surut.