4 Bulan Kemarau di Palembang, Ribuan Warga Sholat Istisqo di Ponpes Zaadul Maad Talang Jambe

Penulis: Syahril Hamid  •  Minggu, 11 Oktober 2026 | 14:31:01 WIB
Ribuan warga mengikuti Sholat Istisqo di Ponpes Ma'had Zaadul Maad, Talang Jambe, Palembang.

PALEMBANG — Langit Palembang tak menurunkan hujan selama sekitar empat bulan. Matahari membakar bumi, debu beterbangan, dan tanah mulai retak. Kondisi itu diperparah asap karhutla yang menyelimuti langit tanpa awan pembawa hujan.

Menghadapi kekeringan panjang, warga setempat menggelar Sholat Istisqo di halaman dan lapangan Pondok Pesantren Ma'had Zaadul Maad, Talang Jambe, Palembang, pada Ahad, 11 Oktober 2026 (28 Rabiul Akhir 1448 H). Kegiatan itu dibuka secara umum dan dihadiri ribuan umat Muslim.

Ribuan Warga dari Tua hingga Anak-Anak Hadir

Sejak pagi, warga berbondong-bondong menuju lokasi. Mereka terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, dewasa muda, hingga anak-anak. Halaman pesantren berubah menjadi lautan manusia yang bermunajat memohon turunnya hujan.

Mereka menyatu dalam satu tujuan: mengaku dosa dan merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. Suasana religius menyelimuti seluruh area sholat sejak kegiatan dimulai.

Ustadz Abu Dzar: Maksiat Penghalang Turunnya Hujan dan Rezeki

Suasana yang awalnya hening berubah mencekam saat Al-Ustadz Abu Dzar hafizhahullah naik ke mimbar sebagai imam sekaligus khatib. Khutbahnya menyoroti rahasia di balik tertundanya hujan dan rezeki dari Allah Subhanaahu wa Ta'ala.

Dalam khutbah itu, Ustadz Abu Dzar membongkar secara frontal apa yang ia sebut sebagai maksiat tersembunyi yang menjadi penghalang turunnya hujan. Ia menegaskan bahwa dosa besar yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi berdampak pada tertahannya keberkahan dari langit.

Khutbah tersebut membakar sanubari jamaah. Banyak di antara mereka menangis dan merendahkan diri, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

Kemarau Ekstrem dan Asap Karhutla Perparah Kondisi

Kemarau yang melanda Palembang selama kurang lebih empat bulan membuat tanah-tanah mulai retak. Debu beterbangan dan menyulitkan aktivitas warga sehari-hari.

Langit kota itu juga diselimuti asap karhutla. Kondisi tersebut menambah keprihatinan warga yang mendambakan hujan untuk memulihkan kondisi lingkungan dan sumber air.

Sholat Istisqo menjadi momentum spiritual bagi warga Palembang untuk memohon pertolongan Allah. Kegiatan itu diharapkan menjadi sarana introspeksi dan perbaikan diri bagi seluruh jamaah yang hadir.

Reporter: Syahril Hamid
Sumber: palpres.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top