SUMSELOKE.COM — Abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau terdeteksi membubung hingga ketinggian 50.000 kaki dan melintasi ruang udara enam provinsi, termasuk Sumatera Selatan. Badan Geologi Kementerian ESDM bersama BMKG meminta pemerintah daerah memperketat koordinasi penanganan dampak kesehatan warga serta keselamatan penerbangan. Langkah mitigasi lintas wilayah langsung diaktifkan menyusul gangguan jadwal pesawat dan potensi paparan debu di darat.
Lapisan pertama bergerak dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah Tenggara-Selatan yang meliputi Banten dan Jawa Barat. Sementara itu, lapisan kedua membubung ekstrem dari permukaan hingga 50.000 kaki, mencakup ruang udara Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, sampai Samudra Hindia.
Menanggapi sebaran abu yang kian meluas melintasi batas provinsi, Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan arahan tegas bagi seluruh pihak terkait. Otoritas kebencanaan meminta pemangku kebijakan di tingkat daerah tidak mengabaikan potensi eskalasi dampak dari gunung api aktif tersebut.
"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat," demikian pernyataan resmi Badan Geologi Kementerian ESDM terkait perkembangan aktivitas vulkanik ini.
Pemerintah daerah di enam provinsi yang terlintasi sebaran abu diminta terus berkoordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masing-masing. Upaya mitigasi difokuskan pada perlindungan kesehatan masyarakat dari paparan partikel debu vulkanik, termasuk instruksi pemakaian masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak.
Ketinggian sebaran abu vulkanik yang menembus 50.000 kaki menjadi perhatian serius otoritas transportasi udara. Lapisan ketinggian ini merupakan jalur krusial bagi lalu lintas penerbangan internasional yang melintasi kawasan barat Indonesia.
Guna mencegah risiko fatal terhadap turbin mesin pesawat, otoritas penerbangan Indonesia menggelar koordinasi intensif bersama Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia. Ancaman keselamatan operasi udara ini berdampak langsung pada jadwal perjalanan reguler di kawasan barat.
Sebanyak 3 penerbangan komersial di Lampung dibatalkan akibat risiko paparan partikel abu silika terhadap performa mesin. Kebijakan ini menyusul langkah operasional serupa di Bandara Soekarno-Hatta yang sempat ditutup sementara pada dini hari yang sama.
Gunung Anak Krakatau sendiri kembali meletus pada Minggu (6/9/2026) pukul 03.53 WIB berdasarkan laporan resmi MAGMA Indonesia dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Petugas pengamat Rioboniek Situmorang mencatat tinggi kolom abu tidak teramati secara visual karena erupsi masih berlangsung saat laporan disusun.
PVMBG mengingatkan masyarakat, wisatawan, maupun kalangan pendaki untuk tidak mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau dalam radius bahaya 3 kilometer. Hingga kini tingkat aktivitas gunung api di perairan Selat Sunda tersebut masih bertahan di Level III (Siaga) sejak ditetapkan pada 2 Juli 2026.
Sejak kenaikan status ke Level III tersebut, pos pengamatan mencatat lebih dari 240 kali kejadian letusan. Kendati letusan terus berulang dan kolom abu terlempar sangat tinggi ke atmosfer, potensi timbulnya gelombang tsunami akibat runtuhan material dinilai sangat kecil hingga nyaris nihil.