SUMATERA SELATAN — Banjir besar yang melanda Nepal akibat pencairan gletser ekstrem telah memicu diskusi publik di Indonesia. Bukan sekadar soal bencana, tetapi juga tentang kemungkinan munculnya kembali organisme purba yang selama ini terawetkan di dalam lapisan es. Pertanyaan ini mencuat setelah pegiat media sosial Gofar Hilman menyebut potensi kebangkitan spesies lama termasuk jamur endoparasitoid dalam unggahannya di aplikasi Threads.
Unggahan tersebut langsung menarik perhatian warganet dengan lebih dari 13.000 likes dan 622 komentar hingga Selasa (1/9). Akademisi pun ikut merespons dengan penjelasan ilmiah.
Profesor Rosichon Ubaidillah MPhil, PhD, peneliti utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membenarkan kemungkinan tersebut. Menurutnya, spesies yang tertimbun ratusan hingga jutaan tahun dan terawetkan dalam es dapat muncul kembali dan bertahan hidup.
“Tentu, banyak spesies lama yang tertimbun ratusan/jutaan tahun yang terawetkan akan muncul kembali dan bisa hidup. Hasil beberapa penelitian meyakini hal itu. Terutama mikroba purba akan spillover,” ujarnya kepada detikINET.
Prof Rosichon merujuk pada penelitian pemodelan yang dilakukan Strona dkk (2023) berjudul “Time-travelling pathogens and their risk to ecological communities”. Studi ini meyakini bahwa patogen purba atau yang kerap disebut zombie-viruses bisa hidup berdampingan dengan ekosistem modern dan memicu risiko biosekuriti serta lompatan inang.
Contoh nyatanya sudah pernah dibuktikan sejumlah peneliti. Cacing gelang purba berusia 46.000 tahun (Panagrolaimus kolymaensis) berhasil dihidupkan kembali dari lapisan es abadi Siberia. Sampelnya diambil dari kedalaman 40 meter di bawah permukaan lalu direhidrasi.
Terlepas dari potensi kebangkitan spesies purba, Prof Rosichon menekankan bahwa pencairan gletser secara besar-besaran pasti mengubah tatanan keanekaragaman hayati. Ekosistem baru dengan jejaring dan komunitas spesies baru akan terbentuk, menggantikan susunan ekosistem yang ada sebelumnya.
“Yang pasti ada perubahan mendasar unit-unit kehati (keragaman hayati) dari pembentukan ekosistem baru dengan jejaring baru dan komunitas keragaman spesies baru, yang tentu berbeda dengan ekosistem sebelumnya,” tandasnya.
Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi Indonesia, terutama karena perubahan iklim turut memengaruhi pola pencairan gletser di kawasan Asia dan berpotensi berdampak pada rantai ekologi global.