PALEMBANG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ikut angkat bicara soal kabut asap yang belakangan menyelimuti langit Palembang. Menurutnya, persoalan ini harus segera dibenahi agar tidak mengganggu kualitas udara dan kenyamanan warga.
Pernyataan itu disampaikan Dedi usai menghadiri Apel Akbar Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) dalam rangka HUT ke-81 RI di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Jumat (28/8/2026). Ia mengaku tetap terkesan dengan potensi dan kekayaan sejarah kota tersebut meski sedang diselimuti asap.
Di sela kunjungannya, Dedi menyebut Palembang sebagai kota yang indah dengan sejarah kuat. Ia menyinggung jejak Kerajaan Sriwijaya, musik khas daerah, hingga kuliner lokal yang membuatnya takjub.
"Palembang, kota yang indah. Kemudian punya sejarah Kerajaan Sriwijaya yang kuat, musiknya itu sangat membuat kita takjub, ikan patinnya enak," kata Dedi.
Namun, kekaguman itu tidak membuatnya menutup mata terhadap persoalan lingkungan yang sedang terjadi. "Jadi tinggal kabut asapnya yang dibenahi," ujarnya.
Meski kondisi udara Palembang tengah diselimuti asap, Dedi memastikan perjalanan udaranya tidak terganggu. Ia menegaskan penerbangan menuju kota tersebut tetap berjalan normal.
Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran publik mengenai dampak karhutla terhadap mobilitas udara di Sumatera Selatan. Kabut asap sendiri diketahui berasal dari meningkatnya titik panas kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Dedi juga menyoroti peran Satlinmas yang dinilainya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ia menilai tugas anggota Linmas tidak sekadar menjaga keamanan, tetapi juga berada di garis depan saat kondisi darurat.
"Yang jaga hajatan Linmas, yang kebakaran Linmas, kemudian yang setiap malam ronda Linmas, ngurusin air di sawah Linmas," kata Dedi.
Besarnya cakupan tugas tersebut, menurutnya, tidak selalu diimbangi dengan perhatian dan perlindungan yang memadai. Ia bahkan menyebut masih ada anggota Linmas di Jawa Barat yang aktif mengabdi hingga usia 82 tahun.
Dedi mendorong agar anggota Satlinmas mendapat perlindungan melalui program jaminan sosial ketenagakerjaan. Perlindungan ini dinilai penting untuk memastikan anggota dan keluarga memiliki kepastian saat terjadi risiko dalam menjalankan tugas.
"Sehingga ketika mereka sakit, ketika mereka mengalami kecelakaan dalam melaksanakan tugas dan ketika meninggal, ada santunan bagi keluarga," ujarnya.
Menurut Dedi, keberadaan Satlinmas tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat tingkat bawah. Mulai dari membantu kegiatan warga, menjaga keamanan lingkungan, hingga menangani situasi darurat menjadi bagian dari aktivitas harian mereka.
"Keberadaan Satlinmas tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari pelayanan sosial di tingkat masyarakat. Karena itu, sudah semestinya negara maupun pemerintah memberikan penghargaan dan perlindungan kepada mereka," tutupnya.