SUMATERA SELATAN — Dalam wawancara dengan WIRED, Scaringe membandingkan evolusi teknologi otonom dengan airbag. “Dulu kita bayar ekstra untuk airbag. Sekarang sudah built-in di semua mobil,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa selama belum banyak perusahaan yang mampu menghadirkan teknologi ini, premium pricing masih wajar. Tapi begitu kapabilitasnya merata, harga akan runtuh dengan sendirinya.
Perbandingan paling tajam datang dari China. BYD, kompetitor terbesar Rivian dan Tesla, sudah membundel paket “God’s Eye” secara gratis di setiap mobil barunya. Sementara di Amerika Serikat, konsumen masih harus merogoh kocek USD 2.500 untuk Autonomy+ milik Rivian atau berlangganan FSD Tesla sebesar USD 99 per bulan.
Ketika jurnalis WIRED Jeremy White menekan Scaringe soal kesenjangan harga ini, CEO Rivian itu tidak membantah. “Selagi Anda bisa, lakukan saja—kalau itu membantu membangun bisnis dan teknologi Anda,” katanya. “Tapi begitu banyak yang sudah mengembangkan, yang bisa Anda tagih akan jauh lebih rendah.”
Pernyataan Scaringe kontras dengan narasi Tesla selama bertahun-tahun. Elon Musk kerap mengatakan harga FSD akan “terus naik” seiring pembaruan software. Kenyataannya, Tesla justru memangkas harga FSD berkali-kali dan akhirnya menghapus opsi pembelian sekali bayar pada Februari lalu, beralih penuh ke model berlangganan.
Scaringe menyebut langkah ini justru membuktikan prediksinya: “Anda bisa menagih mahal hari ini—sama seperti airbag pada 1991—tapi jendelanya tertutup begitu teknologi jadi komoditas.”
Scaringe juga mengungkap bahwa Rivian tengah membangun seluruh tumpukan teknologi otonom secara in-house, termasuk kemungkinan memproduksi lidar sendiri. Sistem ini akan hadir di model R2 mulai akhir 2026 dengan chip 1.600 TOPS, kamera lebih canggih, dan lidar. Sebelumnya, model R2 pertama akan dibekali sistem “Gen 2.5” yang mampu berkendara point-to-point dengan pengawasan pengemudi, belum sepenuhnya tanpa awak.
Teknologi Rivian juga akan diuji melalui joint venture dengan Volkswagen, yang akan menanamkan software Rivian ke mobil listrik murah VW ID.1 seharga USD 20.000. “Di mana Barat—Amerika Utara dan Eropa—tidak bisa bersaing saat ini adalah soal biaya,” kata Scaringe.
Jika prediksi Scaringe benar, konsumen tidak perlu lagi membayar ekstra untuk fitur self-driving dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Teknologi ini akan menjadi standar seperti ABS, backup camera, atau airbag. Bagi pemilik Tesla yang sudah membayar mahal untuk FSD, ini kabar buruk: nilai jual kembali software tersebut bisa anjlok drastis.
Rivian sendiri mengaku akan terus menagih biaya langganan selama pasar masih mengizinkan. Tapi sinyal dari China sudah jelas: ketika BYD memberi gratis, tekanan harga akan menyebar ke seluruh industri. “Ini akan jadi komponen yang tertanam di harga jual mobil,” pungkas Scaringe.