SUMATERA SELATAN — Telkom Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan keuangan yang solid. Perusahaan pelat merah ini berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global, berkat eksekusi strategi transformasi yang disebut TLKM 30.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, pendapatan konsolidasi Telkom mencapai Rp37,2 triliun. Angka ini naik 1,5 persen secara tahunan. EBITDA perusahaan tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan margin 48,3 persen, sementara laba bersih mencapai Rp4,3 triliun. Namun, jika dinormalisasi, laba bersih Telkom mencapai Rp5,1 triliun dengan margin 13,8 persen.
Penurunan laba bersih secara tahunan dipengaruhi oleh percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis yang masih berlangsung. Meski begitu, tekanan ini bersifat sementara dan tidak mengganggu arus kas perusahaan.
Pendorong utama pertumbuhan Telkom pada awal tahun ini justru datang dari segmen bisnis ke bisnis (B2B) infrastruktur. Segmen ini membukukan pendapatan Rp2,4 triliun, tumbuh 6,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja itu ditopang oleh ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang dijalankan melalui anak usaha Mitratel. Mitratel sendiri mencatat pendapatan Rp2,3 triliun, tumbuh 1,4 persen secara tahunan. Bisnis penyewaan menara dan layanan terkait masih menjadi sumber pendapatan utama, dengan EBITDA margin yang tetap tinggi di angka 82,7 persen.
Di segmen B2C, Telkomsel yang menaungi layanan seluler dan fixed broadband mencatatkan pendapatan konsolidasi Rp27,6 triliun atau naik 1,3 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh kontribusi bisnis digital dan kenaikan payload data pelanggan sebesar 2,3 persen secara tahunan.
Yang menarik, rata-rata pendapatan per pelanggan (ARPU) Telkomsel naik menjadi Rp45.100, tumbuh 6,4 persen. Kenaikan ini menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menerapkan disiplin harga dan menyederhanakan produk.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, optimistis prospek industri telekomunikasi masih menjanjikan. Menurutnya, konektivitas dan internet kini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan terhadap layanan internet terus tumbuh dan belum menunjukkan tren penurunan. Kami optimistis memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband dengan mengutamakan customer experience yang baik," ujar Dian dalam keterangan resmi, dikutip pekan ini.
Dari sisi operasional, fundamental bisnis Telkom tetap terjaga. Arus kas operasional perusahaan tumbuh 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh program efisiensi biaya dan disiplin penagihan yang lebih ketat.
Dian menegaskan, tahun ini Telkom akan semakin gencar mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30. "Kinerja kuartal pertama 2026 menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan secara bertahap, demi memberikan pencapaian dan kontribusi terbaik bagi perusahaan, pelanggan, masyarakat, dan negara," pungkasnya.
Dengan pertumbuhan di segmen infrastruktur yang paling tajam, Telkom menunjukkan bahwa diversifikasi bisnis ke layanan B2B menjadi kunci untuk menjaga daya saing di industri telekomunikasi yang kian kompetitif.