PALEMBANG — Polemik di perguruan tinggi tertua di Sumatera Selatan ini memasuki babak kritis. Gubernur Sumsel Herman Deru angkat bicara langsung meminta agar hak akademik mahasiswa tidak menjadi korban dari sengketa internal yayasan dan pengelolaan universitas.
“Saya sudah berkomunikasi dengan L2 Dikti terkait persoalan di Universitas Sjakhyakirti. Saya ini alumninya, sekaligus ketua alumni. Kalau memang ada masalah, selesaikanlah secara internal,” kata Herman Deru di Palembang, Kamis.
Konflik ini berakar pada persoalan kepengurusan dan dominasi di lingkungan yayasan yang mengelola universitas. Ketegangan antara dua kubu internal diduga memicu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencabut izin operasional Fakultas Hukum Universitas Sjakhyakirti.
Pencabutan izin inilah yang langsung memicu reaksi mahasiswa. Pada Sabtu (23/5), puluhan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di kampus. Mereka menuntut kompensasi akademis dan kepastian kelanjutan studi.
“Mahasiswa tidak boleh menjadi korban konflik internal yayasan dan kampus. Kami hanya ingin kepastian pendidikan kami tetap berjalan sampai selesai,” ujar perwakilan mahasiswa, Khaliq.
Menanggapi desakan mahasiswa, Rektor Universitas Sjakhyakirti Maulan Irwadi menggelar rapat dan menyepakati sejumlah langkah penyelesaian sementara. Pihak universitas memastikan mahasiswa semester 2, 4, 6, dan 8 akan dipindahkan ke perguruan tinggi lain mulai semester mendatang.
Seluruh biaya perpindahan ditanggung yayasan tanpa ada tambahan biaya bagi mahasiswa. Selain itu, kampus berjanji menerbitkan transkrip nilai resmi dan melanjutkan perkuliahan semester genap hingga penerbitan Kartu Hasil Studi (KHS).
Kampus juga mengembalikan dana Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa semester 6 yang batal dilaksanakan. Mahasiswa menyatakan akan menempuh jalur hukum apabila pihak kampus tidak menjalankan seluruh poin kesepakatan yang telah dibuat secara tertulis.
Herman Deru menegaskan bahwa seluruh pihak yang berselisih harus menepikan ego kelompok. Ia mengingatkan bahwa Universitas Sjakhyakirti adalah perguruan tinggi tertua di Sumsel yang harus tetap eksis.
“Saran saya kepada kedua kubu, jangan mengorbankan mahasiswa. Universitas Sjakhyakirti harus tetap eksis,” jelasnya.
Jika mediasi yang dilakukan L2 Dikti belum menemukan titik temu, Gubernur menyatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan siap memfasilitasi ruang diskusi bersama untuk mencari solusi. “Syarat pertama jangan korbankan mahasiswa. Yang kedua, silakan datang ke Pemprov untuk sama-sama mencari penyelesaian,” kata dia.
Bagi mahasiswa yang studinya terdampak, kepastian perpindahan ke perguruan tinggi lain menjadi prioritas utama. Pihak rektorat diharapkan segera merampungkan administrasi transkrip nilai dan surat pindah agar mahasiswa tidak kehilangan waktu belajar.
Para alumni, menurut Herman Deru, juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga stabilitas kampus. Konflik internal yayasan yang berlarut-larut dinilai hanya akan merusak reputasi institusi pendidikan yang telah berdiri puluhan tahun di Palembang.