PALEMBANG — Kondisi ekonomi Sumatera Selatan menunjukkan tren stabilisasi yang kuat pada awal kuartal kedua 2026. Data terbaru mencatatkan wilayah ini mengalami deflasi sebesar 0,04 persen (mtm), berbalik arah dari kondisi inflasi pada bulan sebelumnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengungkapkan bahwa capaian inflasi tahunan (yoy) sebesar 1,63 persen ini menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat. Angka tersebut menyusut signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang sempat menyentuh 3,09 persen.
Bambang menilai sinergi lintas instansi dalam mengendalikan harga di lapangan menjadi faktor penentu. "Kondisi ini mencerminkan stabilitas harga yang semakin terjaga berkat efektivitas sinergi pemerintah daerah dan berbagai pihak," ujarnya dalam keterangan resmi.
Penurunan indeks harga pada April 2026 didorong oleh koreksi harga sejumlah komoditas utama. Emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang deflasi terbesar setelah investor melakukan aksi ambil untung pasca-kenaikan harga yang tinggi pada periode sebelumnya.
Sektor pangan juga memberikan kontribusi besar melalui penurunan harga daging ayam ras, telur ayam, dan cabai rawit. Normalisasi permintaan masyarakat setelah melewati puncak konsumsi pada bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri membuat harga di pasar tradisional kembali stabil.
Selain komoditas pangan, tarif angkutan antarkota turut mengalami penyesuaian harga. Penurunan ini sejalan dengan berakhirnya masa mudik Lebaran yang biasanya memicu lonjakan tarif transportasi darat di wilayah Sumatera Selatan.
Meski mencatat deflasi pada April, Bank Indonesia mewaspadai adanya potensi tekanan inflasi pada Mei 2026. Salah satu faktor yang diantisipasi adalah kenaikan tarif angkutan udara akibat dinamika harga minyak global yang mengerek harga avtur.
Faktor cuaca juga menjadi perhatian serius tim pengendali inflasi. Masuknya musim kemarau di Sumatera Selatan berpotensi mengganggu produktivitas komoditas hortikultura, terutama bawang merah dan cabai, yang selama ini kerap memicu fluktuasi harga.
Pemerintah daerah kini memitigasi risiko kegagalan panen di sentra-sentra produksi lokal. Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan tetap tersedia di pasar agar tidak terjadi lonjakan harga yang mendadak akibat kelangkaan barang.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Hingga akhir April, lebih dari 300 kegiatan operasi pasar murah telah digelar secara masif.
Pemerintah juga memfasilitasi subsidi transportasi untuk 47,92 ton komoditas pangan guna memangkas biaya distribusi. Selain itu, kerja sama antar-daerah diperkuat dengan mendatangkan 22,67 ton bawang merah dari Sumatera Barat untuk menjaga keseimbangan stok lokal.
Program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) kini diperluas dengan melibatkan koperasi dan pesantren sebagai basis produksi baru. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan di tingkat akar rumput.