SUMATERA SELATAN — PT Pelindo Multi Terminal menggelar forum koordinasi bersama Bea Cukai, KSOP, dan asosiasi pelayaran untuk mempercepat operasional terminal nonpetikemas Pelabuhan Belawan pada Selasa (13/10). Forum itu menyatukan delapan pemangku kepentingan yang selama ini bekerja di jalur terpisah, dari kepabeanan hingga asosiasi tangki timbun. Hasilnya diharapkan memangkas waktu layanan dan memperlancar arus logistik di salah satu pelabuhan tersibuk di Sumatera itu.
Medan, Sumatera Utara — Anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang menangani terminal nonpetikemas itu menilai percepatan layanan tidak bisa dikerjakan satu pihak saja. Kepala Kantor Bea Cukai Belawan Agus Sujendro dan Executive General Manager Pelindo Regional 1 Cabang Belawan Yusrizal sama-sama menekankan bahwa kelancaran arus barang bergantung pada keselarasan langkah antara pengelola pelabuhan dan instansi kepabeanan.
Forum bertajuk "Percepatan Operasional Nonpetikemas Pelabuhan Belawan" di Grha Pelindo Medan itu dihadiri perwakilan Bea Cukai Belawan (KPPBC TMP Belawan), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Belawan, Pelindo Cabang Belawan, dan Pelindo Multi Terminal Branch Belawan.
Dari sisi pengguna jasa, hadir DPC INSA Medan–Belawan, DPW ALFI/ILFA Sumatera Utara, DPW ISAA Sumatera Utara, serta Asosiasi Tangki Timbun dan Pemompaan Belawan. Kehadiran asosiasi itu penting karena merekalah yang sehari-hari bersinggungan langsung dengan antrean dan prosedur di terminal.
Agenda dimulai dengan paparan Pelindo Multi Terminal Branch Belawan soal gambaran operasional terminal nonpetikemas dan aspek yang bisa dioptimalkan. Setelah itu, Kepala Kantor Bea Cukai Belawan memaparkan sisi kepabeanan yang berkaitan dengan kegiatan pelabuhan.
Dua paparan itu menjadi bahan diskusi untuk menyamakan pemahaman, memetakan kendala, dan merumuskan perbaikan proses. Fokusnya satu: memangkas waktu yang selama ini tersita di titik-titik tertentu.
Direktur Operasi dan Teknik Pelindo Multi Terminal, Wahyu Pradityo, menyatakan forum itu menjadi ruang menyamakan persepsi dan memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan.
"Percepatan operasional membutuhkan pemahaman dan koordinasi yang selaras dari seluruh pihak yang terlibat. Melalui forum ini, kita dapat bertukar pandangan, mengidentifikasi hal-hal yang perlu dioptimalkan, serta membangun kesepahaman mengenai langkah perbaikan yang dapat ditindaklanjuti bersama. Harapannya, kolaborasi ini dapat mendukung proses operasional yang lebih efektif dan kelancaran pelayanan kepada pengguna jasa," ujar Wahyu.
Pernyataan itu menegaskan satu hal: persoalan di terminal nonpetikemas jarang berakar pada satu instansi. Ada kalanya hambatan muncul di pemeriksaan kepabeanan, di penjadwalan sandar, atau di proses bongkar-muat yang melibatkan operator tangki timbun.
Pelabuhan Belawan menjadi pintu keluar-masuk barang untuk Sumatera Utara dan wilayah sekitarnya, termasuk komoditas curah cair dan kering yang ditangani terminal nonpetikemas. Perbaikan kecil di proses layanan bisa berdampak besar karena menyangkut biaya sandar kapal dan waktu tunggu truk.
Pelindo Multi Terminal mendorong hasil diskusi menjadi dasar penguatan koordinasi dan penyelarasan proses kerja antarinstansi. Perusahaan menyatakan upaya itu diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan serta memperkuat peran Pelabuhan Belawan dalam mendukung kelancaran arus logistik.
Bagi pengguna jasa, yang paling dinanti adalah perubahan yang terasa di lapangan: waktu layanan lebih singkat, prosedur lebih jelas, dan antrean yang lebih terkendali. Tanpa itu, forum koordinasi hanya berhenti sebagai catatan rapat.