Sebanyak 353 personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, hingga perusahaan swasta masih berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Operasi darat dan udara diperkuat dengan 57 ekskavator serta tiga helikopter water bombing yang telah mencatatkan 345 sorti penerbangan sejak disiagakan 27 September 2026. Hingga kini, tim gabungan telah membangun sekat bakar sepanjang 10 kilometer untuk mengisolasi pergerakan api.
MUARA MEDAK — Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, belum sepenuhnya padam. Sebanyak 353 personel gabungan masih dikerahkan untuk menangani titik api yang terus menunjukkan pergerakan dinamis sejak kemunculan pertama pada Juli 2026.
Tim satgas darat dan udara tersebut merupakan integrasi dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni XV/Muba, Regu Pemadam Kebakaran (RPK), Tim Reaksi Cepat (TRC), KPH Lalan Mendis, PT Rimba Hutani Mas (RHM), Kelompok Masyarakat Peduli Api (KMPA), serta warga lokal.
Dalam operasi darat, petugas mengandalkan puluhan unit mesin pompa bertekanan tinggi, ratusan rol selang penyalur, serta 20 unit jet shooter. Sebanyak 57 unit ekskavator dan satu unit motor grader diterjunkan ke lokasi untuk membuka barikade akses serta memetakan sekat bakar.
Hingga saat ini, tim gabungan telah berhasil membangun sekat bakar sepanjang 10 kilometer dengan lebar mencapai 50 meter guna mengisolasi pergerakan api. Area penyekatan tersebut disiram secara berkala untuk mempertahankan kelembapan vegetasi dan tanah.
Guna mengoptimalkan penanganan dari udara, tiga unit helikopter pengebom air (water bombing) dikerahkan ke lokasi terdampak. Sejak disiagakan pada 27 September 2026, armada udara tersebut telah mencatatkan sedikitnya 345 sorti penerbangan gempuran air.
Cakupan wilayah operasi pemantauan, pembasahan, dan penyekatan oleh tim gabungan kini telah mencapai area seluas 5.800 hektare.
Kepala KPH Lalan Mendis, Amiril, menegaskan bahwa pergerakan api yang sangat dinamis di lapangan menuntut koordinasi lintas sektor secara intensif dan berkesinambungan.
"Penanganan karhutla di Muara Medak membutuhkan sinergi yang solid. Dukungan personel, kesiapan peralatan, efektivitas pemadaman darat dan udara, serta pemblokiran penjalaran api harus berjalan serentak agar titik api tidak kian meluas," ujar Amiril.
Operasi pemadaman terpadu pada titik krusial ini sebenarnya telah digulirkan oleh aparat gabungan sejak kemunculan titik api pertama pada Juli 2026. Sejak saat itu, personel terus bersiaga di lapangan.
Komandan Kodim 0401/Muba, Letkol Inf. Dimas Kurniawan, mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu timbulnya titik api baru.
"Kami mengajak masyarakat untuk bahu-membahu memadamkan api serta mengawasi wilayah masing-masing agar tidak ada lagi oknum tak bertanggung jawab yang membuka lahan dengan cara membakar," tegas Dimas.
Saat ini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi penyebab awal munculnya api. Penanganan di lapangan terus dilakukan secara simultan hingga titik api benar-benar padam.