12.285 Personel Gabungan dan 14 Helikopter Water Bombing Dikerahkan Tangani Karhutla Sumatera Selatan

Penulis: Fauzan Akbar  •  Jumat, 25 September 2026 | 09:32:31 WIB
personel gabungan dikerahkan menangani karhutla di Sumatera Selatan.

PALEMBANG — Sebanyak 12.285 personel gabungan dari Satgas Penanggulangan Karhutla Sumatera Selatan, TNI Angkatan Udara, pemerintah daerah, dan dunia usaha dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di provinsi itu. Operasi darat dan udara berjalan bersamaan sejak status siaga darurat ditetapkan.

Dari udara, Lanud Sri Mulyono Herlambang mengoperasikan sekitar delapan helikopter untuk patroli dan water bombing. APP Group menambah enam helikopter water bombing yang bergerak di bawah koordinasi Satgas Operasi.

Mengapa Water Bombing Jadi Andalan di Lokasi Sulit Ditembus

Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang, Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, menyebut armada water bombing krusial untuk menjangkau titik api yang jauh dari sumber air dan tidak bisa ditembus satgas darat.

"Alhamdulillah, keberadaan water bombing di Sumsel cukup, terutama untuk menyirami lahan yang terbakar di lokasi yang jauh di dalam dan tidak bisa ditembus oleh satgas darat. Apalagi jika lokasi kebakaran jauh dari sumber air, penanganannya tentu lebih sulit melalui jalur darat," ujar Asep.

Helikopter water bombing tidak hanya menyiram titik api. Armada itu juga membasahi area sekitar kebakaran untuk menghambat penjalaran api, terutama ke arah permukiman warga, perkebunan, dan kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan.

Patroli Udara Temukan Kanal di Konsesi APP Group sebagai Sumber Air

Satgas memetakan sejumlah sumber air untuk operasi udara, mulai dari sungai, danau, kanal, hingga embung. Pemetaan dilakukan saat patroli udara bersama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dan Bupati Ogan Komering Ilir.

Dalam pemantauan itu, tim menemukan kanal di salah satu areal konsesi APP Group yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air water bombing.

"Kita melihat ada parit di antara lahan tanaman yang bisa menjadi sumber air untuk heli water bombing. Kita meminta agar akses pengambilan airnya diperluas untuk memudahkan penggunaan Bambi bucket, dan respons APP Group sangat baik. Dengan demikian, kita bisa menambah sumber air untuk mendukung pemadaman karhutla," ujarnya.

Koordinasi Helikopter Swasta Dilaporkan Sebelum Terbang

Setiap kali memberangkatkan helikopter water bombing, APP Group melapor dan berkoordinasi dengan Lanud Sri Mulyono Herlambang agar pergerakannya bisa dimonitor. Dukungan enam helikopter itu menambah armada satgas di udara.

"Setiap akan memberangkatkan helikopter water bombing, pihak APP Group selalu berkoordinasi dan melaporkan kepada kami sehingga pergerakannya bisa dimonitor. Bantuan ini sangat membantu karena menambah armada satgas di udara," katanya.

Selain armada udara, APP Group menyerahkan dukungan sarana dan prasarana untuk operasi darat, antara lain pompa air, Sambunesia, serta sejumlah perlengkapan pemadaman lain.

"Sejak awal, APP Group telah turut membantu penanganan karhutla, termasuk di wilayah sekitar konsesi. Dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen pengendalian karhutla hingga radius 5 kilometer dari batas konsesi sesuai ketentuan yang berlaku," kata Asep.

Operasi Modifikasi Cuaca Diintensifkan Saat Awan Memungkinkan

Pengendalian karhutla di Sumatera Selatan juga diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga September 2026, operasi itu dilakukan dalam beberapa tahap dengan menyesuaikan kondisi dan ketersediaan awan berdasarkan pemantauan cuaca.

OMC dijalankan sejak periode awal musim kemarau dan kembali diintensifkan ketika kondisi awan memungkinkan. Dalam beberapa hari terakhir, operasi tersebut turut mendukung turunnya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah wilayah.

Satgas juga mengerahkan tim penyuluh ke sejumlah kabupaten untuk meningkatkan kesadaran warga soal pencegahan kebakaran dan larangan membuka lahan dengan cara membakar. Kombinasi operasi darat, water bombing, patroli udara, OMC, dan edukasi masyarakat menjadi strategi penanganan karhutla di provinsi itu.

Reporter: Fauzan Akbar
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top