Sumsel Miliki Kerbau Rawa Pampangan, Potensi Genetik yang Terabaikan Saat Pemerintah Fokus Kloning Sapi

Penulis: Fauzan Akbar  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:21:01 WIB
Kerbau Rawa Pampangan di rawa-rawa Sumatera Selatan, potensi genetik yang menghasilkan daging dan susu.

PALEMBANG — Wacana pemerintah pusat tentang kloning sapi membuka ruang diskusi besar bagi dunia peternakan di daerah. Namun, bagi Sumatera Selatan, pertanyaannya justru berbalik: apakah perlu mengejar teknologi mahal untuk memperbanyak sapi, sementara kekayaan genetik ternak lokal seperti Kerbau Rawa Pampangan belum pernah dikelola secara serius?

Kerbau Pampangan bukan sekadar ternak tradisional yang hidup liar di rawa-rawa. Penelitian Universitas Sriwijaya mendokumentasikan hewan ini sebagai sumber daya genetik yang menghasilkan daging sekaligus susu. Keberadaannya menjadi identitas peternakan Sumatera Selatan yang selama ini kerap dilupakan.

Mengapa Kerbau Lokal Kalah Pamor dari Sapi Impor?

Perhatian pemerintah yang selama ini terpusat pada sapi membuat kerbau lokal seperti Pampangan tersisih dari arus utama pembangunan peternakan. Padahal, adaptasi kerbau ini terhadap lingkungan rawa lebak yang ekstrem menjadikannya aset genetik yang tak ternilai.

Kebijakan yang terus menggenjot populasi sapi melalui impor maupun teknologi semisal kloning kerap mengabaikan fakta bahwa Indonesia punya banyak rumpun ternak lokal yang tangguh. Kerbau Pampangan adalah salah satunya, dan Sumatera Selatan memegang kunci atas potensi tersebut.

Plasma Nutfah yang Menyimpan Dua Potensi Sekaligus

Keunggulan Kerbau Pampangan ganda. Di satu sisi, hewan ini merupakan penghasil daging yang telah menjadi bagian dari rantai pangan masyarakat rawa sejak lama. Di sisi lain, kerbau ini juga dikenal sebagai penghasil susu, sesuatu yang jarang menjadi fokus utama pengembangan di Indonesia.

Dengan pengelolaan genetik yang tepat, bukan tidak mungkin Sumatera Selatan bisa berkontribusi nyata terhadap target swasembada daging nasional. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan kebijakan, riset berkelanjutan, serta pendampingan bagi peternak lokal yang selama ini memelihara kerbau secara tradisional.

Jangan Sibuk Cari yang Jauh, Lupakan yang Dekat

Pernyataan Presiden tentang penguasaan teknologi memang penting, tetapi kekayaan genetik lokal adalah fondasi yang sudah ada di depan mata. Sebelum berbicara tentang kloning, langkah paling logis adalah mengoptimalkan potensi rumpun ternak yang telah beradaptasi dengan kondisi alam Indonesia selama puluhan tahun.

Kerbau Rawa Pampangan adalah jawaban Sumatera Selatan atas persoalan daging nasional. Kini tinggal bagaimana pemerintah daerah dan pusat menyikapinya, apakah akan terus menengok ke luar, atau mulai serius mengelola apa yang sudah dimiliki di halaman sendiri.

Reporter: Fauzan Akbar
Sumber: kompasiana.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top