PALEMBANG — Angka rawat inap di Sumatera Selatan menunjukkan disparitas yang cukup lebar, tidak hanya antarwilayah tetapi juga berdasarkan jenis kelamin pasien. Data terbaru mengungkap bahwa rata-rata lama perawatan di Prabumulih untuk pasien laki-laki hampir dua kali lipat dari rata-rata provinsi.
Kota Prabumulih menjadi daerah dengan rata-rata rawat inap pasien laki-laki tertinggi di Sumsel, yakni 10 hari. Sementara itu, rata-rata gabungan pasien laki-laki dan perempuan di kota tersebut tercatat enam hari, masih di atas rata-rata provinsi.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Muara Enim dan Kota Lubuk Linggau. Di kedua daerah ini, pasien perempuan justru menjalani perawatan paling lama, dengan rata-rata tujuh hari. Angka ini dua hari lebih panjang dari rata-rata provinsi.
Pola berbeda terlihat di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Pasien laki-laki di sana rata-rata dirawat selama tujuh hari, sementara pasien perempuan hanya empat hari. Perbedaan tiga hari ini menjadi salah satu kesenjangan gender terbesar dalam data rawat inap di Sumsel.
Selain Prabumulih, Muara Enim, dan Lubuk Linggau, daerah lain dengan rata-rata rawat inap gabungan enam hari adalah Kabupaten PALI dan Kota Palembang. Angka ini satu hari lebih tinggi dari rata-rata provinsi yang berada di angka lima hari.
Di sisi lain, Kabupaten Musi Banyuasin mencatat rata-rata rawat inap gabungan paling singkat, yakni tiga hari. Untuk pasien laki-laki, rata-ratanya empat hari, sedangkan perempuan tiga hari.
Sejumlah daerah lain seperti Lahat, Musi Rawas, OKU Selatan, OKU Timur, Ogan Ilir, dan Empat Lawang mencatat rata-rata sekitar empat hari. Sementara Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Musi Rawas Utara, dan Pagar Alam berada di kisaran lima hari.
Perbedaan durasi perawatan antar daerah dan jenis kelamin ini dipengaruhi sejumlah faktor. Mulai dari jenis penyakit yang ditangani, tingkat keparahan pasien saat masuk rumah sakit, hingga kapasitas dan layanan fasilitas kesehatan di masing-masing wilayah.
Data ini menjadi perhatian bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi mutu layanan kesehatan. Durasi rawat inap yang lebih panjang bisa mengindikasikan kasus yang lebih berat, atau sebaliknya, efisiensi penanganan yang perlu ditingkatkan.