PALEMBANG — Delapan warga binaan LPP Kelas IIA Palembang tampil sebagai model dalam peragaan busana yang digelar di Benteng Kuto Besak (BKB), Jumat. Mereka mengenakan busana bermotif jumputan hasil karya sendiri, dengan konsep warna hijau dan cokelat yang memberikan kesan alami namun tetap elegan.
Kegiatan ini merupakan rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kota Palembang. Kepala LPP Kelas IIA Palembang, Desi Andriyani, mengatakan pameran ini membuktikan bahwa keterbatasan ruang gerak tidak menghalangi warga binaan untuk tetap produktif.
"Karya seni ini menunjukkan bahwa keterbatasan ruang gerak tidak menghalangi warga binaan untuk tetap produktif dan menghasilkan karya yang bernilai estetika tinggi," ujar Desi Andriyani dalam pernyataannya.
Desi menjelaskan, hasil karya warga binaan tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dipasarkan secara luas. Masyarakat yang berminat dapat membeli secara digital melalui aplikasi Sicantik atau dengan mengunjungi langsung Galeri Lapas Perempuan Palembang.
Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan hasil koordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Palembang. Kolaborasi ini menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pemberdayaan narapidana.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Sumatera Selatan, Yulius Sahruzah, memberikan apresiasi terhadap terobosan ini. Menurutnya, pameran di ruang publik seperti BKB memiliki esensi penting dalam proses reintegrasi sosial.
"Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat. Dengan bekal keterampilan dan penerimaan publik yang baik, kami berharap pada saat bebas nanti, mereka memiliki kemandirian ekonomi dan tidak mengulangi lagi perbuatan yang melanggar hukum," kata Yulius Sahruzah.
Peragaan busana di BKB ini menjadi salah satu upaya LPP Palembang memperluas jangkauan pasar hasil karya warga binaan. Produk kain jumputan yang ditampilkan diharapkan mampu bersaing di pasar kerajinan lokal Palembang yang dikenal kaya akan motif tradisional.
Dengan adanya akses pemasaran digital melalui aplikasi Sicantik, warga binaan dapat menjangkau pembeli yang lebih luas tanpa harus keluar dari lapas. Langkah ini dinilai strategis untuk membangun kemandirian ekonomi mereka sebelum masa bebas tiba.