PAGARALAM — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menekankan pentingnya ketangguhan daerah dalam menghadapi transisi kebijakan nasional, terutama yang berkaitan dengan efisiensi anggaran dan digitalisasi tata kelola pemerintahan. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri Rapat Paripurna Istimewa peringatan seperempat abad Kota Pagaralam.
"Kita harus siap menghadapi fase transisi. Saat ini segala sesuatu berlangsung secara terbuka dan serba digital," ujar Herman Deru dalam sambutannya di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Pagaralam.
Herman Deru menyoroti bahwa pemerintah pusat terus memperbarui kebijakan pengelolaan keuangan. Daerah, menurutnya, tidak punya pilihan selain beradaptasi dengan cepat. Jika tidak, pelayanan publik akan tergerus oleh perubahan zaman.
Ia menegaskan, pola pelayanan publik yang lama sudah tidak relevan. Masyarakat kini menginginkan kecepatan dan transparansi. "Pemerintah daerah harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut agar tetap dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," kata Herman Deru.
Gubernur dua periode itu meminta para kepala daerah tidak hanya melihat digitalisasi sebagai beban, tetapi sebagai peluang. Dengan sistem digital, pengawasan dan akuntabilitas anggaran bisa lebih ketat. Efisiensi bukan sekadar pemotongan, melainkan penajaman prioritas belanja.
Acara tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Provinsi Sumsel Hj. Feby Herman Deru, Wali Kota Pagaralam H. Ludi Oliansyah, Ketua DPRD Kota Pagaralam Hj. Jenny Shandiyah, serta sejumlah bupati dan wali kota dari berbagai daerah di Sumsel.
HUT ke-25 menjadi momen refleksi bagi Pagaralam, kota yang berada di kaki Gunung Dempo. Herman Deru mengingatkan, usia yang semakin matang harus diimbangi dengan tata kelola yang modern. "Jangan sampai kita hanya merayakan usia, tapi cara kerja masih seperti 25 tahun lalu," ujarnya.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh pemda di Sumsel. Di tengah tekanan fiskal nasional dan tuntutan reformasi birokrasi, adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Daerah yang lambat berubah, menurut Herman Deru, akan kehilangan relevansinya di hadapan publik.