JAKARTA — Laga Belanda kontra Swedia di Stadion Houston, Texas, Amerika Serikat, Sabtu (20/6) dini hari WIB, diprediksi berjalan sengit. Data dari pertandingan pertama menunjukkan, 84 persen dari total penetrasi Belanda ke sepertiga akhir lapangan berasal dari serangan sayap. Angka itu hampir sama dengan Swedia yang mencapai 86 persen.
Namun, ada perbedaan tipis dalam pola serangan kedua tim. Swedia lebih sering mengoptimalkan sayap kanan, sementara Belanda lebih seimbang dalam mengeksploitasi kedua sisi lapangan. Ronald Koeman diperkirakan akan memanfaatkan celah ini dengan memaksimalkan pergerakan Denzel Dumfries dan Crysencio Summerville di sisi kanan, ditopang Ryan Gravenberch.
Di kubu Swedia, duet Alexander Isak dan Viktor Gyokeres menjadi ancaman serius bagi lini belakang Oranye. Kedua striker yang bermain di Liverpool dan Arsenal itu tampil padu saat menghancurkan Tunisia 4-1 di laga pertama. Mereka saling berbagi assist untuk dua gol yang dicetak di pertandingan tersebut.
Isak bahkan menambah satu assist lagi untuk gol keempat Swedia yang dicetak Matthias Svanberg. Sistem 3-4-1-2 racikan pelatih Graham Potter memberi mereka ruang gerak yang luas di lini depan.
Belanda mengandalkan visi bermain Ryan Gravenberch yang merancang dua gol Oranye saat ditahan imbang 2-2 oleh Jepang. Gol tersebut dicetak oleh Virgil van Dijk dan Crysencio Summerville, yang semuanya berawal dari pergerakan di sayap kanan.
Frenkie de Jong juga menjadi jangkar yang tak tergantikan di lini tengah. Namun, keputusan Koeman menarik Gravenberch dan menggantinya dengan Nathan Ake saat unggul 2-1 justru membuat Belanda kehilangan kendali. Jepang memanfaatkan perubahan formasi itu untuk menyamakan kedudukan.
Graham Potter disebut bisa menunggu kekeliruan serupa yang dilakukan Koeman. Jika pelatih Belanda itu salah membaca arah permainan, Swedia berpeluang besar merebut tiket fase gugur lebih cepat.
Swedia memiliki rekor apik di Piala Dunia. Tim berjuluk The Blue-Yellow itu selalu lolos dari fase grup dalam empat partisipasi terakhirnya, termasuk saat finis peringkat ketiga pada edisi 1994 di Amerika Serikat. Namun, mereka belum pernah mengalahkan Belanda di putaran final Piala Dunia. Satu-satunya pertemuan terjadi pada 1974 yang berakhir imbang 0-0.
Belanda yang absen pada 2018 dan kembali masuk pada edisi 2022 di Qatar, kini bertekad melangkah sejauh mungkin. Oranye tak pernah gagal melewati fase grup dalam sebelas partisipasi sebelumnya. Namun, mereka juga belum pernah sekalipun meraih trofi juara, meski tiga kali menjadi runner-up pada 1974, 1978, dan 2010.
Hasil imbang 2-2 melawan Jepang menjadi modal yang kurang ideal bagi Belanda. Laga kontra Swedia menjadi ujian sesungguhnya bagi konsistensi permainan mereka.