PALEMBANG — Meski kalender musim sudah menunjukkan puncak kemarau, warga Sumatera Selatan masih harus bersiap dengan potensi hujan mendadak. Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Sinta Andayani, menjelaskan bahwa kondisi ini bukan anomali, melainkan dampak dari dinamika atmosfer yang masih aktif.
Sinta mengungkapkan, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada pada fase 1. Fase ini menyebabkan atmosfer di wilayah Sumatera bagian tengah hingga utara menjadi cukup lembap, dan Sumsel ikut terdampak.
"Sumsel saat ini sudah memasuki musim kemarau. Namun, di awal musim kemarau masih ada peluang terjadinya hujan," katanya, Sabtu (19/6/2026).
Selain MJO, hujan di tengah kemarau juga dipicu oleh intrusi udara kering dari Australia. Massa udara ini bertemu dengan udara yang lebih dingin di selatan Pulau Sumatera.
"Pertemuan kedua massa udara tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan. Namun, hujan yang terjadi umumnya berintensitas ringan hingga sedang, bersifat lokal dan berdurasi singkat," jelas Sinta.
Di sisi lain, berkurangnya curah hujan sejak masuk musim kemarau mulai terasa dampaknya. Sinta mengungkapkan bahwa debit sejumlah sungai di Sumsel, termasuk Sungai Musi, mengalami penurunan.
"Kurangnya curah hujan sejak memasuki musim kemarau menyebabkan debit sungai-sungai di Sumsel, termasuk Sungai Musi, mengalami penurunan," ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan lokal yang bisa terjadi secara tiba-tiba, meski durasinya singkat. Sementara itu, penurunan debit sungai perlu diantisipasi, terutama bagi sektor transportasi air dan pasokan air baku di wilayah Palembang dan sekitarnya.