Puluhan Siswa SD di Semarang Diajak Tinggalkan Gadget, Bermain Gobak Sodor hingga Egrang

Penulis: Hamdani Putra  •  Rabu, 17 Juni 2026 | 11:12:01 WIB
Puluhan siswa SD di Semarang menikmati permainan tradisional seperti gobak sodor dan egrang.

SUMATERA SELATAN — Kegiatan yang berlangsung baru-baru ini itu tak hanya menyajikan permainan. Para siswa diajak merasakan pengalaman bermain egrang, engklek, dan rangku alu—permenian yang mengandalkan kekompakan dan keseimbangan. Pemandangan anak-anak asyik dengan layar ponsel mulai tergantikan oleh sorak-sorai saat satu tim berhasil menyelesaikan lintasan bakiak tanpa terjatuh.

Belajar Kerja Sama Lewat Lompat dan Lari

Pihak sekolah menyebut kegiatan ini bukan sekadar rekreasi. Outing kelas rutin digelar agar siswa yang tumbuh di lingkungan perkotaan bisa merasakan langsung kehidupan pedesaan dan memahami kearifan lokal. Melalui gobak sodor, misalnya, anak-anak belajar strategi, komunikasi, dan kepercayaan antarteman. Sementara itu, bakiak mengajarkan pentingnya gerak serempak dan gotong royong.

"Ini nilai yang sulit didapatkan dari gim digital," ujar salah satu guru pendamping.

Bukan Hanya Bermain, Juga Membuat Wayang Suket

Selain permainan tradisional, para siswa mengikuti aktivitas budaya lain. Mereka diajak membuat wayang suket dari jerami, belajar tari tradisional, hingga menabuh lesung—sebuah alat musik tradisional yang dahulu digunakan untuk menumbuk padi. Ada pula sesi mengenal tata krama masyarakat Jawa, seperti cara berbicara dan bersikap kepada orang yang lebih tua.

Desa Wisata Kandri, yang berlokasi di Kota Semarang, menjadi ruang edukasi yang mempertemukan generasi muda dengan budaya lokal. Pemerintah setempat berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut agar warisan budaya Nusantara tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Interaksi Sosial Mulai Jarang Ditemui

Suasana penuh tawa dan interaksi langsung yang terlihat di Omah Alas menjadi pemandangan yang mulai langka. Kebiasaan anak-anak bermain melalui layar digital kerap mengurangi waktu mereka untuk bersosialisasi secara fisik. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya bermain, tetapi juga belajar tentang kerja sama, komunikasi, dan nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Reporter: Hamdani Putra
Sumber: video.medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top