SUMATERA SELATAN — Peretas mengubah halaman utama situs NBI dan menggantinya dengan berbagai slogan yang mengecam pemerintah. Kelompok yang menamakan diri #HappyGoLuckyPh mencantumkan kutipan adaptasi dari film V for Vendetta: "Rakyat tidak seharusnya takut kepada pemerintah. Pemerintahlah yang seharusnya takut kepada rakyat."
Serangan ini masih bersifat defacement—pengubahan tampilan tanpa mengganggu sistem utama. Namun, fakta bahwa situs lembaga penegak hukum nasional berhasil ditembus menjadi sorotan tajam. Kejadian ini terjadi hanya tiga hari setelah situs DPR Filipina diretas pada 13 Juni, dan seminggu setelah situs Senat dibobol pada 10 Juni.
Sebanyak 22 kelompok peretas mengklaim terlibat dalam aksi pembobolan situs DPR Filipina. Mereka meninggalkan pesan bertuliskan: "Kebenaran di balik sirkus pemerintahan tidak bisa disembunyikan."
Situs Senat Filipina diretas oleh kelompok bernama Nullsec PH. Pelaku memasang pesan "Transparansi bukanlah sebuah pilihan" serta menyertakan tautan menuju komunitas SentinelX yang selama ini dikenal kerap mengekspos celah keamanan siber. Dalam pesan lainnya, muncul kalimat ikonis kelompok peretas internasional Anonymous: "We do not forgive, we do not forget."
Direktur NBI, Melvin Matibag, dalam konferensi pers menegaskan pihaknya telah memulai operasi pelacakan terhadap para pelaku. "Kami akan memburu mereka sampai tuntas dan meminta pertanggungjawaban mereka," ujar Matibag.
Penyidik telah mengidentifikasi pihak yang diduga bertanggung jawab atas peretasan terhadap tiga situs pemerintah tersebut. Identitas mereka masih dirahasiakan karena proses investigasi berlangsung. Matibag memastikan tidak ada data sensitif yang bocor selama insiden peretasan.
Kepolisian Nasional Filipina meminta seluruh instansi pemerintah memperkuat sistem keamanan digital mereka. Unit penanganan kejahatan siber telah diterjunkan untuk menelusuri jalur serangan, metode yang digunakan, serta mengukur dampak yang ditimbulkan.
Serangan terhadap situs pemerintah bukan hal baru di Filipina. Pada September tahun lalu, sedikitnya 19 situs lembaga pemerintah diretas di tengah gelombang aksi protes anti-korupsi bertajuk "1-Trillion Peso March". Otoritas Filipina saat itu menunjuk kelompok AnonymousPH sebagai dalang utama, sebuah kelompok lokal yang menggunakan simbol dan slogan terinspirasi dari jaringan peretas internasional Anonymous.
Rangkaian serangan terbaru ini kembali menguak pertanyaan serius mengenai ketahanan infrastruktur digital pemerintah Filipina. Ancaman kejahatan siber dan aktivitas kelompok peretas yang semakin terorganisasi kini menjadi ujian nyata bagi aparat keamanan di negara tersebut.