SUMATERA SELATAN — Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam konferensi pers menjelaskan bahwa potensi likuifaksi tidak merata di seluruh wilayah terdampak. Fenomena ini hanya mungkin terjadi di zona dengan karakteristik tanah tertentu.
“Tentunya dengan gempa yang saat ini (M)6,7, itu bisa saja kemungkinan terjadi likuifaksi, tapi kan likuifaksi tidak terjadi di semua wilayah ya, hanya wilayah-wilayah tertentu di mana wilayah itu yang daerah yang berpasir, terus ada potensi air naik dan seterusnya, utamanya di situ,” ujar Wijayanto.
Pernyataan itu merujuk pada kondisi geologis Palu yang sebagian wilayahnya berada di atas endapan alluvial dan tanah pasir lepas. Saat guncangan kuat terjadi, tekanan air pori di dalam tanah meningkat drastis dan menyebabkan tanah kehilangan kekuatan, berubah seperti lumpur cair.
Wijayanto menambahkan, meski potensi likuifaksi tetap ada, dampak yang ditimbulkan diperkirakan tidak separah peristiwa 2018. Perbedaan magnitudo yang signifikan membuat energi yang dilepaskan gempa kali ini jauh lebih kecil.
“Tapi tentunya kita berharap untuk gempa yang (M)6,7 ini, misalkan itu terjadi likuefaksi, harapannya tidak signifikan seperti yang 7,5 ya. Karena memang antara 6,7 sama 7,5 itu sangat jauh sekali energinya. Jadi harapannya nanti tidak ada,” kata Wijayanto.
Gempa M7,5 pada 2018 memicu likuifaksi masif di beberapa titik di Kota Palu dan Sigi, menelan ribuan korban jiwa serta menenggelamkan seluruh permukiman. Peristiwa itu menjadi salah satu bencana geotektonik paling mematikan di Indonesia dalam satu dekade terakhir.
BMKG memastikan terus memantau perkembangan aktivitas seismik dan kondisi tanah di wilayah Palu dan sekitarnya. Hingga Selasa malam, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur akibat likuifaksi maupun longsor susulan.
“Sampai saat ini BMKG belum menerima informasi gempa bumi yang menimbulkan likuifaksi maupun longsor,” tegas Wijayanto.
Kendati demikian, warga di kawasan rawan—terutama yang berada di bantaran sungai dan dataran rendah berpasir—diimbau tetap waspada terhadap guncangan susulan. Pemerintah daerah bersama BPBD telah mulai melakukan asesmen awal di titik-titik yang dianggap rawan.