Gagal Panen Akibat Pupuk Kimia, Sutarni di PALI Sulap 15 Hektare Lahan Jadi Organik Berkat Program Pertamina, Omzet Petani Naik Tiga Kali Lipat

Penulis: Rizal Fikri  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 17:08:31 WIB
Sutarni bersama petani PALI sukses ubah 15 hektare lahan menjadi organik lewat Program PUJANGGA Pertamina.

Hamparan sawah di Talang Ubi Utara sepuluh tahun lalu menyimpan cerita pahit. Sutarni dan petani di sekitarnya kerap gagal panen akibat serangan jamur dan ulat grayak. Tanah yang terus dibombardir pupuk kimia justru menjadi racun bagi tanaman mereka.

Hasil panen saat itu hanya 2,5 hingga 3 ton beras per hektare dengan harga jual Rp10.000 per kilogram. Modal besar untuk bibit dan pupuk kimia yang kian mahal membuat keuntungan petani sangat tipis. "Dulu hasil panen tidak menentu, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja sering tidak cukup," kenang Sutarni.

Program PUJANGGA: Dari Jerami dan Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik

Secercah harapan datang pada tahun 2021. PEP Pendopo Field, bagian dari PHR Regional Sumatera Zona 4, meluncurkan Program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability (PUJANGGA). Sutarni bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosela dan Kelompok Tani Rejomulyo langsung bergabung.

Pertamina memberikan pelatihan teknis: cara memulihkan lahan menggunakan pupuk dari jerami dan kotoran hewan, teknik penanaman bibit yang efisien, serta pengendalian hama dengan bahan alami seperti asap batok kelapa dan larutan susu, telur, serta madu. Mereka juga mendapat sekretariat dan bantuan alat pertanian.

Produktivitas Melonjak 80 Persen, Harga Beras Naik Dua Kali Lipat

Hasilnya terlihat nyata di lahan seluas 15 hektare yang dikelola Sutarni dan rekannya. Kebutuhan bibit per hektare anjlok drastis dari 100 kilogram menjadi hanya 5 kilogram. Ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal pun bisa ditekan habis.

Produktivitas panen beras meningkat 80 persen—dari 2,5 ton menjadi 4,5 ton per hektare dalam masa tanam tiga hingga empat bulan. Kualitas beras organik yang lebih baik membuat harga jual meroket hingga Rp20.000 per kilogram. "Sekarang produksi beras meningkat dan kami para petani bisa hidup lebih layak," ujar Sutarni.

Dari Sawah ke Ruang Belajar: KWT Rosela Merambah Tanaman Herbal

Keberhasilan di sektor padi mendorong Sutarni memperluas dampak pemberdayaan bagi perempuan. Pada tahun 2024, ia mendirikan KWT Rosela yang tak hanya fokus pada pertanian, tetapi juga membangun ruang belajar di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Pendopo Field.

Sebanyak 20 anggota aktif mengelola lahan setengah hektare dengan menanam tanaman obat keluarga (toga) seperti jahe, kunyit, kencur, bawang dayak, pegagan, kumis kucing, dan sambiloto. Tanaman herbal ini diolah menjadi teh rosela, bandrek, peyek, dan stik ubi yang mampu menghasilkan pendapatan bersama Rp2 juta per bulan.

KWT Rosela juga aktif memberikan edukasi pemanfaatan tanaman obat bagi anak-anak sekolah dan masyarakat yang berkunjung ke lahan pertanian mereka. PHR Zona 4 berkomitmen terus mendorong masyarakat di sekitar wilayah operasi agar dapat tumbuh bersama melalui inisiatif serupa.

Reporter: Rizal Fikri
Back to top