Puluhan Owa Siamang Bekas Peliharaan Warga Direhabilitasi di Palembang, Satu Ekor Positif Herpes Harus Tinggal Seumur Hidup di Kandang

Penulis: Fauzan Akbar  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:09:01 WIB
Anakan owa siamang berusia satu tahun menjalani rehabilitasi di PRS Punti Kayu Palembang.

PALEMBANGTangan kecil owa siamang itu cekatan mengambil potongan wortel, jagung, dan timun di balik kandang berukuran 3×2 meter. Matanya sayu menatap ke luar, seolah bertanya kapan bisa kembali ke alam liar dan bertemu induknya. Ia baru berusia satu tahun, tetapi sudah terpisah dari ibunya.

“Usianya baru satu tahun, masih anakan, tapi sudah terpisah dari ibunya,” kata Arnestasya Fitri Andriani, dokter hewan di PRS Punti Kayu, Kamis (7/5/2026).

Empat Bayi Siamang Hasil Sitaan, Terpisah Paksa dari Induk

Hingga saat ini, PRS Punti Kayu yang dikelola The Aspinall Foundation sejak 2022 menampung 28 owa siamang dan satu owa ungko. Sejauh ini, lembaga tersebut telah melepasliarkan sekitar 40 individu siamang ke habitat aslinya.

Made Wedana, Direktur The Aspinall Foundation, mengatakan mayoritas siamang yang dievakuasi merupakan bekas peliharaan warga yang diserahkan sukarela atau hasil sitaan. “Untuk ungko, ada satu individu karena baru masuk kerja sama tahun ini (2026),” ujarnya, Rabu (20/4/2026).

Empat dari 29 individu tersebut masih berusia sekitar satu tahun dan merupakan hasil sitaan. Pemisahan paksa di usia dini menghambat tumbuh kembang mereka. Secara alami, anak siamang masih melekat penuh pada induknya hingga usia dua tahun.

Rehabilitasi Bekas Peliharaan Butuh Waktu 5–10 Tahun

Pola asuh siamang cukup unik. Pada tahun pertama, bayi bergantung pada induk betina untuk menyusu dan kehangatan. Memasuki usia satu hingga dua tahun, terjadi alih asuh: induk jantan mengambil alih menggendong, merawat, dan mengajak bermain.

“Ketika sudah terpisah dari induknya, ada pengetahuan atau pembelajaran terputus. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses rehabilitasi,” lanjut Arnes.

Anakan siamang bekas peliharaan membutuhkan waktu rehabilitasi lebih lama dibandingkan yang tidak pernah dipelihara manusia. “Butuh waktu sekitar 5–10 tahun untuk merawat siamang bekas peliharaan warga, karena kami benar-benar harus memastikan mereka tidak lagi akrab dengan sentuhan manusia,” kata Arnes.

Gading Positif Herpes, Terpaksa Menetap di Kandang Seumur Hidup

Satu-satunya owa ungko di PRS Punti Kayu, Gading, harus menghabiskan sisa hidupnya di kandang perawatan. Satwa itu terjangkit virus herpes yang diduga berasal dari pemilik sebelumnya. “Kalau ada (penyakit), kemungkinan mereka akan menghabiskan sisa hidupnya di kandang penangkaran,” ujar Arnes.

Kasus Gading menjadi catatan penting bahwa memelihara satwa liar tidak hanya berbahaya bagi manusia, tetapi juga meningkatkan potensi penyebaran penyakit dari manusia ke satwa, atau sebaliknya. Penyakit yang menyerang satwa liar dapat membahayakan populasi mereka di alam liar jika sampai tertular.

Beruntungnya, sebagian besar siamang yang dirawat di PRS Punti Kayu belum menunjukkan tanda-tanda klinis penyakit. Mereka masih memiliki harapan untuk kembali ke habitat asli setelah menjalani proses rehabilitasi panjang.

Reporter: Fauzan Akbar
Sumber: mongabay.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top